RADAR JOGJA – Kereta Rel Listrik (KRL) Jogjakarta – Solo hingga saat ini masih dalam tahap uji coba yang dapat diikuti masyarakat. Selanjutnya mulai 10 Februari mendatang, akan mulai beroperasi sepenuhnya untuk melayani para pengguna. Setelah beroperasi penuh, akan ada 20 perjalanan KRL yang setiap harinya beroperasi di lintas Jogjakarta – Solo PP.

Total ada 20 perjalanan yang terlayani setiap harinya. Dalam setiap perjalanan, satu rangkaian KRL akan membawa 4 gerbong. Setiap gerbong terisi maksimal 74 penumpang. Kuota ini menyesuaikan dengan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Operasi penuh KRL berdampak pada operasional kereta rel diesel (KRD) Prambanan Ekspres (Prameks). Ini KRL sepenuhnya menggantikan peran Prameks. Tepatnya untuk rute perjalanan dari Jogjakarta – Solo dan sebaliknya.

“Rute Prameks Jogjakarta hingga Solo sepenuhnya digantikan oleh KRL. Total ada 20 perjalanan itu. Nanti Prameks tetap operasional tapi hanya rute menjadi Kutoarjo – Jogjakarta pulang pergi dengan 8 perjalanan,” jelas Vice President Corporate Secretary KAI Commuter  Anne Purba, ditemui di Stasiun Tugu Jogjakarta, Kamis (4/2).

KRL Jogjakarta – Solo nantinya akan berhenti di 11 stasiun kereta api. Diantaranya berangkat dari Stasiun Tugu Jogjakarta, lalu ke Stasiun Lempuyangan, Stasiun Maguwoharjo, Stasiun Brambanan, Stasiun Srowot, Stasiun Klaten. Adapula Stasiun Ceper, Stasiun Delanggu, Stasiun Gawok, Stasiun Purwosari, dan Stasiun Solo Balapan.

Waktu tempuh moda transportasi baru ini diklaim lebih cepat daripada Prameks. Sebagai perbandingan KA Prameks dengan rute pemberhentian di 7 stasiun ditempuh selama 75 menit. Sementara untuk KRL mampu menempuh 68 menit untuk 11 stasiun pemberhentian.

“Tarif satu kali perjalanan KRL Rp 8 ribu, flat untuk semua rute perjalanan. Besaran tarif ini sama dengan tarif KA Prameks. Bedanya sistem pembayaran pakai kartu multi trip (KMT) atau bisa pakai e-money milik beberapa bank relasi,” katanya.

Kondisi pandemi Covid-19 menjadi catatan tambahan dalam operasional KRL. Berupa penerapan protokol kesehatan di setiap rangkain gerbong. Selain itu juga ada pemeriksaan suhu tubuh dan wajib cuci tangan sebelum memasuki peron KRL.

Anne menuturkan setiap penumpang wajib menggunakan masker 3 lapis atau masker medis. Sesudah naik KRL wajib mematuhi marka di tempat duduk dan lantai gerbong. Fungsinya untuk menjaga jarak antar penumpang.

“Selama perjalanan, penumpang juga dilarang berbicara secara langsung maupun melalui telepon genggam. Lalu dilarang makan dan minum karena ini meminimalisir membuka masker. Semuanya antisipasi droplet,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya