RADAR JOGJA – Air bah yang meluncur ke kawasan pesisir Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, diprediksi menimbulkan kerugian cukup besar. Pemkab Gunungkidul sedang melakukan pembahasan terkait penanganan lanjutan pasca-bencana itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, sampai sekarang masih melakukan pendataan untuk mengetahui total nilai kerugian. Penanganan pertama sudah dilakukan.

“Mulai dari bantuan permakanan dan kegiatan bersih-bersih lingkungan pemukiman terdampak banjir genangan,” kata Edy Basuki saat dihubungi Radar Jogja Senin (1/2).

Dia menjelaskan, air bah yang datang akhir pekan lalu memicu sejumlah kerusakan. Selain berimbas pada rumah, fasilitas lain seperti warung, pospol air, masjid, kantor pelabuhan, jembatan dan areal pertanian juga terdampak.
“Kami baru bisa memprediksi kerugian akibat kerusakan rumah ditaksir Rp 20 juta. Untuk kerugian lain masih dihitung. Situasi sekarang air telah surut,” ujarnya.

Organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga telah meninjau lokasi, salah satunya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPR) Kabupaten Gunungkidul. Perbaikan putusnya jembatan penghubung Songbanyu-Sadeng masih dilakukan pembahasan. “Jalan itu merupakan jalan kabupaten,” ucapnya.

Di bagian lain, dampak air bah merusak 10 hektare lahan pertanian. Sebagian besar lahan yang berada di aliran Sungai Bengawan Solo purba lenyap tersapu air. Areal pertanian yang rusak satu jalur dengan lokasi jembatan putus.

Sementara itu, Panewu Anom (Sekretaris Kecamatan) Kapanewon Girisubo Arif Yahya mengatakan, kerusakan lahan dimulai dari sebelah utara jembatan, amblas, lalu air mengalir ke selatan dan kembali menyapu lahan pertanian warga. “Lahan siap panen sebelumnya ditanami padi hingga jagung. Total sekitar 10 hektare lahan pertanian hilang. Lokasinya spot-spot,” kata Arif.

Kepala Bidang (Kabid) Dinas Tanaman Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Raharja Yuwono membenarkan adanya kerusakan lahan pertanian di lokasi kejadian. Meski demikian, pihaknya berharap hasil tani masih bisa dikondisikan.

“Masih memantau perkembangan kerusakan tanaman. Tiga hari ke depan baru bisa diketahui, apakah ada yang puso atau masih ada yang bisa dipanen,” kata Raharja.

Terpisah, Kepala Seksi Bidang Bina Marga PUPR Kabupaten Gunungkidul Wadiyana mengaku telah meninjau lokasi jembatan ambrol. Hasil monitoring akan dibawa ke rapat kabupaten terkait penanganan pasca-bencana.
“Jika nanti bupati menetapkan darurat bencana, untuk pembangunan kembali bisa menggunakan BTT (Belanja Tidak Terduga),” kata Wadiyana. (gun/laz)

Jogja Raya