RADAR JOGJA – Aktivitas di dalam Gunung Merapi memang masih terus terjadi. Namun belakangan volume kubah lava baru pada gunung api itu mengalami penurunan signifikan setelah terjadi rentetan erupsi material vulkanik akhir Januari lalu.

Kendati mengalami penurunan, laju pertumbuhan kubah lava masih terus berlangsung hingga kini. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan, volume kubah lava sempat mencapai 58 ribu meter kubik pada 25 Januari lalu.

Kemudian pada 28 Januari mengalami penyusutan menjadi sebesar 62 ribu meter kubik, karena rentetan guguran dan awan panas yang terjadi kala itu. “Ada pertumbuhan pada kubah lava, tetapi tidak cepat. Sampai saat ini berdasar data monitoring, tidak ada tanda-tanda akan runtuhnya kubah bersamaan,” kata Hanik Humaida kepada Radar Jogja Senin (1/2).

Berdasarkan pantauan yang dilakukan BPPTKG, kecepatan pertumbuhan kubah lava per hari rata-rata sebesar 8 ribu meter kubik. Sedangkan kecepatan maksimum mencapai 22 ribu meter kubik yang pernah terjadi pada 23 Januari.
Dari pengamatan foto udara, terpantau laju ekstrusi magma Gunung Merapi sekitar 24 ribu meter kubik. Ekstrusi magma turut mempengaruhi potensi bahaya saat ini. “Potensi bahaya berupa awan panas guguran kemungkinan bisa terjadi dengan potensi bahaya di sektor selatan-barat daya, dengan jarak maksimum 5 km,” tambahnya.

Secara umum, intensitas erupsi Gunung Merapi terhitung masih rendah. Juga potensi bahaya yang terjadi. “Namun yang perlu kita diperhatikan kalau ada suplai dari dalam. Ini yang kita tidak pernah tahu,” tandas Hanik. (kur/laz)

Jogja Raya