RADAR JOGJA – Dinas Perdagangan Kota Jogja kembali mengupayakan relaksasi bagi pedagang pasar tradisional. Ini karena banyak pedagang pasar yang terkena dampak dari kebijakan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) yang bergulir hingga 8 Februari mendatang.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Yunianto Dwisutono mengatakan, selama kebijakan PTKM jilid pertama para pedagang pasar tradisional mengalami dampak kondisi pasar yang cukup sepi. Sebab, selama penerapan PTKM jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jogja juga mengalami penurunan.
Terlebih kebijakan pembatasan kegiatan diberlakukan mayoritas daerah wilayah Jawa dan Bali. “Ini cukup berdampak di pasar-pasar tertentu. Terutama yang segmen kunjungannya wisatawan,” kata Yunianto Senin (1/2).

Yunianto menjelaskan seperti di Pasar Beringharjo Barat yang didominasi pedagang batik dan suvenir. Penurunan kunjungan cukup signifikan hingga 70 persen. Sebab, konsumen di pasar itu segmennya wisatawan. “Tapi penurunan pengunjung juga sangat dirasakan pedagang di Pasar Pakuncen,” ujarnya.

Hal itu dikarenakan selama PTKM mengalami pembatasan yang cukup ketat, terutama pada malam hari. Padahal Pasar Pakuncen banyak mengandalkan pengunjung pada malam hari. Sedangkan pasar tradisional yang menjual bahan kebutuhan pokok, tidak mengalamai persoalan. “Kalau pasar yang menjual kebutuhan bahan pokok kan karena setiap hari dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.

Oleh karena itu pihaknya akan mengkaji upaya relaksasi bagi pedagang pasar yang terdampak. Terutama akan diberikan terhadap pasar yang memiliki segmen pembeli tertentu. Jika tahun lalu relaksasi diberikan dalam bentuk keringanan retribusi pasar secara berjenjang, tahun ini relaksasi diupayakan dalam bentuk lain. “Tapi kami tetap berharap kehadiran market place bisa dimanfaatkan secara luas oleh pedagang,” tambahnya.

Demikian pula penurunan jumlah pengunjung selama PTKM selain di sejumlah pasar tradisional juga dirasakan di pusat perbelanjaan di Kota Jogja. Namun, terkait hal ini pihaknya masih melakukan survei kuantitatif terkait penurunan jumlah pengunjung itu.

Meski demikian, secara kualitatif penurunan jumlah pengunjung diklaim hingga lebih dari 50 persen. Biasanya keramaian di pusat-pusat perbelanjaan terjadi pada malam hari. Tetapi pembatasan jam operasional yang diperpanjang hingga pukul 20.00 pada PTKM tahap dua, diharapkan bisa membantu meningkatkan jumlah pengunjung.

Terpisah, Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat Bintoro mengatakan, selama penerapan PTKM jilid pertama dan kedua sangat terasa dampaknya. Penurunan pengunjung mencapai hampir 70 persen. Kondisi pasar sangat lengang dibandingkan sebelum penerapan PTKM.

“Saat pandemi Covid-19 kita masih tetap bisa berjalan. Ada PTKM dan perpanjangan kami sangat prihatin, jumlah pengunjung sedikit sekali,” katanya.
Tidak sedikit pedagang yang menggantungkan mata pencahariannya di sana memilih libur dibandingkan membuka tokonya. Sebab, selama buka tidak ada satupun pengunjung yang masuk pasar. “Bahkan ada yang buka sebentar terus tutup saking sepinya. Daripada di pasar tidak dapat apa-apa, di rumah bisa istirhat sambil menunggu kondisi stabil,” ujarnya.

Padahal masih dalam situasi pandemi sebelum penerapan PTKM omzet mereka hampir merangkak naik. Tepatnya akhir Desember lalu pendapatan yang masuk bisa mencapai 70 persen. Sekarang sangat jauh dari hari-hari biasa sebelum ada PTKM.

“Mungkin ini cuma 30 persen omzet yang masuk pada saat udah berjalan baik kemarin,” tambahnya yang menyebut jumlah pedagang Pasar Beringharjo Barat antara 1.200 hingga 1.400-an orang.

Dia mengklaim adanya relaksasi tahun lalu dalam bentuk keringanan retribusi pasar secara berjenjang cukup membantu para pedagang pasar yang memiliki penghasilan tidak menentu selama pandemi. Diharapkan relaksasi dalam bentuk lain juga bisa diupayakan Dinas Perdagangan.
Terutama, bagaimana upaya mendatangkan pengunjung dari luar daerah ke kota Jogja. Di mana Pasar Beringharjo selalu menjadi tujuan utama wisatawan untuk berbelanja. Kebanyakan yang datang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Selain itu, para pedagang juga mengupayakan rutin penyemprotan disinfektan dua kali dalam seminggu untuk memastikan keamanan dan kenyamanan antarpedagang dan pengunjung. “Kami tidak bisa buat apa-apa. Sangat potensial sekali dari dinas bisa memberikan informasi mengenai kondisi pasar dan Kota Jogja di medsos. Supaya mereka bisa mengunjungi pasar,” harapnya. (wia/laz)

Jogja Raya