RADAR JOGJA – Pemkot Jogja tengah mengupayakan penambahan shelter untuk melakukan isolasi mandiri pasien Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) maupun gejala ringan. Ini untuk mengantisipasi ketika shelter di Tegalrejo penuh.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, penambahan shelter masih terus dikaji. Namun yang sedang diupayakan untuk disiapkan sebagai shelter adalah rumah dinas camat atau mantri Pamong Praja yang tidak digunakan. Selain juga mendorong fasilitas umum seperti masjid, Balai Rukun Kampung (RK) maupun Balai RW dan sebagainya di wilayah.

“Jadi sekarang kita kuatkan bahwa shelter itu juga ada di masyarakat kampung. Ada beberapa rumah dinas camat yang tidak digunakan, karena rumah tinggalnya dekat dengan kantor. Nah, yang ini bisa dimanfaatkan untuk shelter,” kata HP.

Shelter di Tegalrejo memiliki kapasitas 42 kamar dengan total 84 tempat tidur. Dalam satu kamar bisa diisi dua orang, namun pengisian tetap akan dipisah jika tidak dalam satu keluarga. Dengan demikian penyediaan kamar perlu dilakukan segera, karena shelter sempat pada titik penuh, mengingat masih tingginya kebutuhan pasien Covid-19 untuk menjalani isolasi mandiri secara optimal.

“Nanti kita tetap seperti biasa menyuplai obat-obatan dari Dinkes, permakanan dari Dinsos dan juga pengawasannya dari Satpol PP. Sekarang sudah jalan semua sebenarnya. Artinya yang belum jalan sedang kita dorong untuk jalan,” ujarnya.

Terpisah, Mantri Pamong Praja Kotagede Rajwan Taufiq mengatakan, pada prinsipnya saat ini lebih banyak pasien menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Meski juga sembari menyiapkan shelter jika nanti dibutuhkan sewaktu-waktu.

“Sebagian besar warga Kotagede bisa isolasi mandiri di rumahnya. Tapi kami juga sudah koordinasi dengan satgas tingkat RT, RW, kampung, kelurahan, untuk menyiapkan fasilitas umum apabila diperlukan tempat isolasi mandiri bagi masyarakat,” kata Taufiq.

Fasilitas umum yang sudah disiapakan bagi masyarakat untuk menjalani isolasi mandiri seperti Balai RW di Gedongkuning dan Prenggan. Dan balai kampung di Kelurahan Purbayan. Kapasitas balai rata-rata bisa mencapai lima kamar. “Ya lumayan bisa untuk menampung kalau dibutuhkan. Tapi, semoga saja tidak sampai digunakan, artinya warga kita yang memerlukan isolasi mandiri berkurang,” ujarnya.

Demikian pula jika beberapa balai itu dimanfaatkan, maka teknis pengawasan dan logistik juga telah disiapkan. Satgas tingkat RW sudah dibentuk untuk menangani pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Ada seksi penanganan pasien isolasi mandiri, mereka memastikan warga yang positif itu memadai atau tidak menjalani isolasi di rumahnya.

Jika tidak, apakah akan dilarikan ke rumah sakit atau cukup di shelter. Lalu seksi logistik akan memastikan dan bertanggungjawab bahwa pasien terpenuhi permakanan sehari-harinya. “Tapi selama ini juga bisa terpenuhi dari warga sekitar yang secara bagehi ngluwihi berbagi kepada yang sedang menjalani isolasi mandiri,” jelasnya.

Sementara, Mantri Pamong Praja Mergangsan Rini Rahmawati mengatakan hal senada bahwa lebih banyak warga pasien Covid-19 mampu menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Namun, saat ini tengah proses menyiapkan shelter untuk isolasi mandiri pada eks hotel yang tidak terpakai. “Ini agak lumayan kapasitasnya. Cuma masih berupaya karena kita sudah mengirimkan surat, masih menunggu jawaban dari pengelola,” katanya.

Pihaknya mendorong semua kelurahan di Mergangsan untuk menyiapkan shelter sebagai antisipasi jika dibutuhkan masyarakat yang tidak mampu menjalani isolasi mandiri di rumah. Meski begitu, yang menjadi kendala adalah karena penduduk yang sangat padat di wilayahnya.

Juga masih ada sebagian penduduk sekitar yang belum bisa menerima keberadaan shelter tersebut. Koordinasi terus dilakukan hingga tingkat RT dan RW. “Jadi memang kita harus kerja sama dan menyadarkan warga masyarakat,” tandas Rini.

Sedangkan, Mantri Pamong Praja Umbulharjo Rumpis Tri Mintarta juga mengupayakan kampung maupun tingkat RW yang memiliki fasilitas umum untuk menyediakan shelter lokal. “Sudah ada yang siap ditempati di beberapa wilayah,” katanya.

Wilayah itu khususnya di beberapa RW di Semaki yang bisa digunakan sebagai shelter lokal. Di antaranya ada Balai RW 04 dan Joglo Semaki untuk warga Semaki Gedhe. Balai Kampung Sanggrahan untuk warga setempat. Dan Balai Semaki Kulon untuk warga setempat pula. Kapasitas masing-masing bisa dihuni sampai lima orang.

“Ini catatan tidak menerima warga dari wilayah lain. Mereka sudah siap kalau ada warganya yang positif dan tidak memungkinkan isolasi di rumahnya,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya