RADAR JOGJA – Di balik pesona Merapi ternyata ada 60 species tanaman anggrek tumbuh di sana. Karena kecintaannya pada anggrek, Warjana, 43 , warga Padukuhan Batur, Kepuharjo, Cangkringan, ini tergerak hatinya untuk melestarikan tanaman anggrek spesies langka ini.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, SLEMAN, Radar Jogja

Siang itu Radar Jogja mengunjungi kediaman Warjana. Berjarak sekitar 8 kilometer dari puncak Merapi. Rumahnya sederhana, rapi dan halamannya dipenuhi tumbuhan hijau. Warjana pun langsung menunjukkan bengkel favoritnya dia bekerja.

Tak biasa. Bengkel ini dipenuhi tanaman anggrek. Yang membuat terkejut, anggrek ini spesies langka dari kawasan hutan Gunung Merapi. Lalu, pria yang kerap disapa Jana ini menunjukkan satu spesies anggrek tanah Merapi. Namanya, paphiopedilum javanicum yang biasa disebut anggrek kasut atau selop. Bunganya didominasi warna hijau keunguan. Memiliki kantung layaknya sandal selop. Bagian mahkota agak berbulu dan berbintik kecoklatan.

“Seperti ini modelnya banyak. Ada yang dari Semeru, Merbabu, dan lainnya berbeda,” ungkap Jana sembari menunjukkan jenis anggrek ini di bengkel anggrek miliknya, Senin (26/1).

Ada pula anggrek tanah yang sangat langka. Berukuran kecil dan hanya berbunga. Tidak memiliki daun dan cenderung berumbi. Namanya anggrek sirosis apila atau anggrek hantu. “Disebut anggrek hantu lantaran ukurannya kecil, hampir tak nampak. Orang awam banyak yang tak mengira kalau ini spesies anggrek,” ungkapnya.

Lalu ada juga jenis tricolor dengan warna yang unik. Yang paling spesial, kata Jana, Merapi jewel orchid atau G-aksara atau anggrek permata. Ini ada empat macam. Yaitu, macodes petola, ionopsis rennuarti, kyocera retikulata, dan macodes silver. Keberadaannya sudah sangat langka. Karena tumbuh berkembangnya susah, faktor perburuan liar dan faktor alam karena erupsi.

“Tanaman kantung semar juga langka di sisi selatan Merapi,” kata pria berusia 43 tahun ini. Diceritakan, awalnya dia bersama teman-temannya mendirikan Forum Peduli Lingkungan Pecinta Alam Lereng Merapi (FPL Palem) pada 2002. Yang mana fokus pada pelestarian pohon sebagai inang anggrek. Yakni kayu sarangan (castanopsis argentea).

Sebagaimana menjadi inang favorit bagi anggrek yang kini mulai langka di antero Indonesia. Tumbuhan ini kerap ditumbuhi anggrek login spesius, eria, bulphopilum, dan argo stro philum. Lambat laun juga merambah pada jenis inang lainnya hingga ke spesies anggreknya.

Pihaknya juga bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Litbang Hutan) dan Pusat Studi Bio Teknologi UGM. Spesies anggrek akan dikembangkan dengan metode kultur jarigan, sebagai upaya konservasi untuk selanjutnya dikembalikan lagi ke hutan.

“Ke depan makanya juga ada tes DNA dan genetik anggrek-anggrek ini. Setahun lagi,” katanya. Bengkel anggrek ini juga akan dijadikan pusat studi dan edukasi anggrek. Harapannya dapat dikempangkan sebagai wisata edukasi sekaligus mengajak masyarakat turut menjaga kelestarian anggrek spesies Merapi.

Keindahan anggrek di mata Jana, memiliki filosofi besar. Anggrek walau hidup di tempat kering, tandus menempel di pohon, tidak akan merugikan inangnya. Apabila sudah saatnya tiba, anggrek akan memberikan keindahan yang tidak diberikan tanaman lain. “Ini seperti halnya filosofis hidup. Saya pegang erat filosofi ini hingga sekarang,” tandasnya. (laz)

Jogja Raya