RADAR JOGJA – Dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 dan kebijakan PTKM cukup menggerus sektor jasa pariwisata. Aliansi pelaku pariwisata Jogja kini mengusulkan lima poin berwisata di Jogja yang sehat dan aman dari virus korona.

Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Jogja Sarbini mengatakan, perpanjangan PTKM menjadi keprihatinan seluruh organisasi pariwisata di Jogja. Karena selama pandemi telah digantungkan dari ketidakpastian selesainya pagebluk korona ini. Sempat perekonomian mulai bangkit dan berjalan, ditambah munculnya kebijakan PTKM dan perpanjangan hingga 8 Februari.

“Kita dalam tiga hari ini akan sowan gubernur, ini lho kami masyarakat Jogja sudah mengalami sesuatu yang sangat parah dalam kehidupan ini,” kata Sarbini usai pertemuan antarkomunitas pariwisata menyikapi perpanjangan kebijakan PTKM di Bakpia Jogkem, Senin (25/1).

Ketua DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIJ itu menjelaskan, pandemi dan kebijakan PTKM sangat memukul telak sektor pariwisata. Padahal sektor pariwisata dinilai cukup fundamental. Namun dengan munculnya kebijakan PTKM, berdampak terhadap psikis masyarakat.
“Masyarakat jadi takut berwisata dan keluar dari rumah. Ini yang melatarbelakangi pertemuan kami, bagaimana menyegarkan kembali bahwa wisata dan keluar dari rumah justru menyehatkan imun kita,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Sarbini, pertemuan Aliansi Pelaku Pariwisata Jogja yang terdiri atas berbagai pelaku, organisasi atau lembaga pariwisata, bukan berbicara terkait penolakan perpanjangan PTKM. Melainkan mengusulkan rekomendasi untuk penataan sesuai dengan kearifan lokal.

Meski dengan harapan pula tidak akan adanya perpanjangan PTKM lagi ke depan. “Kita minta bukan PTKM, tapi penataan yang sesuai dengan kearifan lokal. Jadi wisata tetap jalan, prokes tetap mendampingi,” jelasnya.

Menurutnya, penting untuk membangkitkan geliat semangat masyarakat berwisata ke Jogja. Dengan demikian, seiring pula geliat perekonomian bisa berjalan meski adanya pembatasan tertentu. Salah satu cara untuk membangkitkan hal itu perlu keberpihakan yang bisa meyakinkan masyarakat.

Jogja maupun luar Jogja bahwa wisata Jogja sangat kondusif, mapan dan tertata dengan baik.“Ini perlu ada statemen yang bisa meyakinkan masyarakat. Dan kami berani menjamin, wisata Jogja justru akan menyehatkan wisatawan,” terangnya.

Oleh sebab itu, sekitar 10 lebih perwakilan komunitas atau lembaga pariwisata yang hadir dalam pertemuan itu yakni HIPPI, Organda, PHRI, HPI, Asmipa, Aspperwi, Konco Penak, Asita, Forppi, dan lain-lain, berkomitmen tetap menghadirkan wisatawan luar ke Jogja maupun mengajak masyarakat Jogja berwisata yang sehat di Jogja. Ini salah satu upaya untuk membangkitkan perekonomian sektor pariwisata di tengah kebijakan PTKM.

“Kami sangat menghendaki pariwisata bekerja atau hidup kembali. Semua pergerakan industri pariwisata sehat, otomatis ekonomi jogja akan bangkit,” tandasnya.

Ada lima poin solusi yang akan diusulkan, yaitu wisata yang sehat yakni dengan aturan-aturan biro perjalanan pariwisata. Kedua, agar wisata bisa berjalan dan hidup kembali maka aplikasi jogjapass dan jogja.com dimaksimalkan perannya. Ketiga, perlu adanya penataan dengan kearifan lokal.

Keempat, meminta pemerintah agar wisata yang digerakkan bisa menggandeng industri pariwisata lokal. Kelima, menggerakkan dan mengedukasi masyarakat agar berani berwisata ke Jogja. “Sekarang sudah tidak lagi Covid-19 itu menjadi isu, tapi wisata itu justru menyehatkan. Ini harus kita kembalikan, karena PTKM secara teknis menyembelih kita. Padahal, PTKM itu untuk mengatur pergerakan,” tambahnya.

Sementara itu, Humas Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ Budi Haryanto Yohanes mengatakan, sektor transportasi juga turut terdampak selama pandemi dan PTKM. Sebanyak 800 unit bus pariwisata di Jogja yang biasa dalam satu bulan selama pandemi bisa melakukan perjalanan 15 kali, maka selama PTKM hanya 1-2 bus saja. “Kalau pengusaha transportasi apalagi, saya tidak bisa membayangkan kalau tidak mendapat relaksasi perbankan, sudah habis nasibnya,” katanya.

Awal bulan Maret-April permintaan transportasi relatif masih tinggi. Namun anjlok setelah adanya informasi persebaran Covid-19. Maka setelahnya benar-benar vakum tidak melakukan perjalanan beberapa bulan. Tetapi memasuki bulan Agustus cukup mulai bangkit karena munculnya kelonggaran dan adanya upaya seperti Kopi Bus untuk memperkenalkan dan membangkitkan jasa transportasi bus pariwisata.

Diharapkan momentum libur Nataru menjadi pengungkit daya ekonomi namun meleset sampai sekarang. Kerugian akibat pagebluk korona ini terhadap jasa transportasi bisa mencapai Rp 12 miliar. “Kami ilustrasikan dalam satu bulan satu bus bisa menghasilkan Rp 20 juta. Dikalikan saja anggap 600 bus yang jalan, sebanyak itu kalau saya ngomong kerugian. Dan ini baru bus pariwisata. Belum kalau ngomong angkutan rental mobil, dan lain-lain,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya