RADAR JOGJA – Dampak pandemi Covid-19 terus meluas. Bukan hanya pada kehidupan manusia, tapi juga binatang liar. Sekitar 150 satwa dilindungi yang berada di Wildlife Rescue Center (WRC), Pengasih, Kulonprogo, pun terancam keberlangsungan hidupnya.

Manajer Konservasi WRC Reza Dwi Kurniawan mengungkapkan, dana operasional yang dimiliki lembaganya hanya mampu bertahan untuk bulan ini saja. Kondisi WRC memang sedang kritis. Keadaan ini sudah sejak tahun lalu.
“Ada saja yang ketika kami butuh, bantuan masuk. Tapi kami tidak bisa berharap keajaiban itu terus datang. Kondisi saat ini kami memang dalam keadaan sangat terjepit,” sebut Reza saat dihubungi Radar Jogja Jumat (22/1).

Kondisi ini diakibatkan oleh pandemi. Guna mencegah penularan, pihak imigrasi Indonesia menutup jalur turis asing yang memakai visa wisata ke Indonesia. “Itu membuat kami tidak bisa menerima relawan. Dan untuk menekan tingginya kasus Covid-19, tidak bisa mengadakan kegiatan keramaian dengan mengadakan acara yang mendatangkan tamu,” katanya.

Situasi ini disebut Reza tidak pernah diharapkan. Lantaran 75 persen pendanaan WRC diperoleh dari turis asing. Mereka umumnya datang ke WRC untuk menjadi relawan sekaligus memberikan donasi.

“Dana operasional kami hanya berasal dari relawan saja. Kami tidak memiliki donatur tetap yang membantu pembiayaan setiap bulannya. Ketika pandemi, relawan tidak bisa datang karena imigrasi tutup. Jadi tidak ada income,” keluhnya.

Padahal WRC menjadi tempat tinggal sekitar 150 satwa liar yang dilindungi dan terancam punah. Biaya operasionalnya, termasuk gaji 25 karyawan, mencapai Rp 100 juta per bulan. Guna meminimalisasi pengeluaran, pengelola memangkas beberapa operasional. “Agar tetap dapat bertahan dan tetap relevan dengan kondisi tempat konservasi kami,” kata Reza.

Pengelola berusaha melakukan penggalangan dana, melalui platform penggalangan dana online. Selain memberitahukan keadaannya pada pejabat terkait. “Kami pernah mendapat bantuan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta. Tapi itu hanya dapat bertahan, dengan keadaan yang dicukup-cukupkan,” ujarnya.

Sementara relawan lokal, dikatakan Reza, lebih cenderung memberikan bantuan tenaga. Berbeda dengan relawan asing yang cenderung memberikan bantuan dana. “Relawan lokal yang berbayar hampir tidak ada. Karena mereka kurang untuk mengeluarkan dana seperti itu. Mereka cenderung rela membantu secara fisik. Dana dari luar, dan mereka punya uang lebih banyak. Mereka menyisihkan,” ungkapnya.

Dana WRC yang minim berdampak pada stok obat di WRC. Dokter hewan WRC, Guruh Jaya Wisnuwardhana mengungkap stok obat-obatan untuk perawatan hewan mulai menipis. “Kalau terjadi kegawatdaruratan masih bisa ditangani. Tapi stok obat terus menipis, karena stok pembeliannya dikurangi selama berkurangnya pendanaan WRC,” ucapnya. (fat/laz)

Jogja Raya