RADAR JOGJA – Berawal dari mencari pakan alternatif bagi unggas peliharaannya, Nanda Eka Saputra kini sukses membudidayakan maggot sebagai ladang bisnis. Omzetnya pun jutaan rupiah. Ini karena permintaan masyarakat terhadap belatung dari lalat hitam ini cukup tinggi.

IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Kulonprogo

Siang itu, Nanda tengah sibuk membersihkan kandang yang berada di belakang rumahnya. Pada sebuah tempat yang tertutup jaring hijau itu, terdapat ribuan lalat tentara atau jenis Black Soldier Fly (BSF). Sudah sejak bulan Agustus 2020, ia fokus membudidayakan larva dari lalat BSF.

Adapun niat awal pemuda asal Padukuhan Krembangan 1, Kalurahan Krembangan, Panjatan, Kulonprogo, ini untuk membudidayakan maggot untuk mencari pakan alternatif bagi ternak unggasnya. Sebab, harga pakan pabrikan untuk ternaknya kian mahal.

“Saya budi daya maggot ini sebenarnya karena ada kendala dalam masalah pakan ternak yang mahal. Makanya kami cari cara bagaimana membuat pakan yang cost-nya tidak terlalu mahal. Maggot ini jadi salah satu solusinya,” ujar Nanda saat ditemui Radar Jogja (18/1).

Bermodal halaman kosong di samping kandang ternak ayamnya, Nanda kemudian memulai budi daya maggot dengan membeli telur larva. Ia belajar kepada pembudidaya di wilayah Bantul.

Budi daya maggot diakui cukup mudah. Sebab yang dibutuhkan hanya sebuah kandang untuk pembesaran dan indukan. Kemudian untuk pakannya hanya bermodal dari limbah rumah tangga.

Sementara untuk kendala dalam budi daya, Nanda menyatakan masalah utama adalah kondisi cuaca. Sebab, suhu dan temperatur sangat berpengaruh terhadap perkembangan larva.

Dalam sebulan ia mengaku bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 2 juta dari budi daya maggot ini. Pemasarannya pun cukup mudah, sebab justru pembudidaya yang dicari oleh para calon pembelinya. “Kalau bicara tentang potensi, budi daya maggot ini sangat berpotensi. Sebab, permintaan untuk pakan ikan dan unggas sangat tinggi dan pakannya pun hanya dari limbah,” ujarnya.

Adapun harga jual maggot di kalangan pembeli, pada maggot segar bekisar antara Rp 6 ribu-Rp 8 ribu per kilogram, lalu maggot pupa dihargai Rp 40 ribu-Rp 50 ribu per kilogram, kemudian pre-pupa Rp 80 ribu-Rp 100 ribu per kilogram.

Maggot paling mahal adalah yang sudah dimasak sangrai, seharga Rp 100 ribu-Rp 150 ribu per kilogramnya. “Untuk pemasaran kami ada di Bantul, Sleman, dan Kulonprogo sendiri,” ungkap Nanda. (laz)

Jogja Raya