RADAR JOGJA – Semakin tingginya kasus Covid-19 di DIJ, pemerintah daerah mulai mendorong sejumlah penyintas atau orang yang pernah positif virus korona mendonorkan plasma convalescent (konvalesen). Terapi ini tidak bisa diberikan kepada semua pasien positif Covid-19, dan hanya diberikan kepada pasien dengan gejala berat atau kondisi kritis.

Pakar penyakit dalam spesialis paru-paru Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Sumardi menjelaskan, terapi plasma konvalesen yang diberikan kepada pasien dengan gejala berat bertujuan untuk membantu mempercepat penyembuhan. Dan bukan sebagai pencegahan.
Namun saat ini adanya vaksinasi bisa mencegah seseorang yang terpapar Covid-19 dengan gejala berat. Meski saat ini sudah ditemukan vaksin, terapi plasma konvalesen masih bisa dijadikan sebagai pilihan penyembuhan. “Namun untuk pasien berat,” jelas Sumardi Rabu (19/1).

Terapi plasma konvalesen, lanjutnya, telah lama digunakan sebagai metode pengobatan penyakit akibat infeksi. Misalnya saat pandemi flu Spanyol pada tahun 1900-an. Selain itu, pengobatan difteri, flu burung, flu babi, ebola, SARS, dan MERS. Dalam pengobatan pasien Covid-19, terapi dilakukan dengan menggunakan plasma darah pasien positif Covid-19 yang sudah sembuh. Plasma darah yang terdapat antibodi itu ditransfusikan ke pasien Covid-19 yang masih sakit.

Sumardi menuturkan, selain syarat umum terdapat sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi untuk melakukan transfusi konvaselen. Pendonor harus terbukti memiliki antibodi terhadap Covid-19 dalam kadar yang cukup. Mengingat plasma yang diambil sekitar 400 milimeter dengan memakai metode plasmapheresis. “Yakni hanya mengambil plasma dari sel darah merah saja. Pemberian plasma darah ini sebanyak dua kali sehari pada pasien Covid-19,” lanjutnya.

Menurut Sumardi, pengambilan plasma lebih baik dilakukan pada pendonor yang merupakan pasien Covid-19 yang sudah sehat dan berjenis kelamin laki-laki, karena tidak memiliki antigen HLA. Sebab, antigen HLA dapat menimbulkan reaksi atau masalah bagi penerima donor.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo membenarkan secara policy, plasma konvalesen sangat membantu penyembuhan pasien Covid-19 dengan gejala berat. “Tapi seberapa efektif dan detail teknisnya, menjadi ranah klinisi,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengungkapkan, sejak Oktober 2020 pihaknya sudah melakukan donor plasma. Sardjito mempunyai delapan alat yang bisa digunakan untuk proses donor plasma konvalesen. “Kami juga melakukan pelayanan donor plasma. Tidak hanya untuk memasok kebutuhan di Sardjito saja, tapi juga dari rumah sakit lain,” ungkap Rukmono. (eno/laz)

Jogja Raya