RADAR JOGJA – Warga Tritis, dusun tertinggi di Kalurahan Girikerto, Turi, masih menjalankan aktivitas normal. Mereka belum menerima instruksi untuk mengungsi. Jarak dusunnya dengan puncak Merapi sekitar 6,5 Km.

Slamet Sefanto, 61 warga Dusun Tritis, Padukuhan Ngandong mengatakan, guguran lava pijar yang terjadi dalam beberapa hari belakangan dinilai masih wajar. Warga pun tetap beraktivitas biasa. Mencari rumput untuk pakan ternak dan berkebun, di luar radius 5 km dari puncak.

“Belum ada instruksi mengungsi. Warga masih biasa-biasa saja,” ungkap Slamet saat ditemui Senin (18/1). Meski guguran lava pijar Merapi saat ini mengarah ke Kali Krasak, ia mengungkapkan, jaraknya cukup jauh dengan Dusun Tritis. Lebih dari 2 km.

Ketua RT 6 Dusun Tritis Rianta mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum menerima laporan ada warga yang mengungsi secara mandiri. Warga diimbau tetap siap siaga, meningkatkan kewaspadaan dan tidak panik.

Dikatakan, mayoritas warga sudah lama bergaul dengan Merapi, sehinga mengerti tanda-tanda bahaya gunung api ini. Warga juga siap jika sewaktu-waktu ada imbauan untuk mengungsi. Dokumen dan surat-surat penting sudah disiapkan sejak peningkatan status siaga level November 2020. Disebutkan, kurang lebih 85 KK di dusun ini.

“Intinya imbauan kesiapsiagaan sudah ada. Bagaimana alurnya, evakuasi nanti sudah disosialisasikan dari pihak kalurahan,” ungkap Rianta. Pendataan kelompok rentan meliputi lansia, ibu hamil dan menyusui, balita atau anak-anak juga sudah dilakukan. Termasuk pendataan pada hewan ternak.

Jumlahnya 20-an lebih kelompok rentan dan sekitar 100 hewan ternak kambing ataupun domba. Lalu ada juga sapi dan ayam. Pendataan juga menyasar jumlah kendaraan yang dimiliki warga, sehingga jika sewaktu-waktu ada peningkatan aktivitas Merapi dapat melakukan evaluasi mandiri dengan menaiki kendaraan. “Rute evakuasinya nanti dibagi dua jalur. Karena jalannya sempit, kendaraan besar tidak bisa berpapasan,” katanya.

Ada pun titik kumpul sudah disiapkan di tiga lokasi. Yakni masjid, rumah warga dan di pos pemantauan Merapi. Sedangkan barak pengungsian diproyeksikan di posko induk Balai Kalurahan Girikerto, Turi. Juga Gedung SMPN 3 Turi. Jaraknya 11 km lebih dari puncak Merapi. Warga diimbau untuk tidak mendekati radius 5 km. Selain itu, diminta menghindari alur Sngai Bedog yang hulunya di puncak.

Siapkan Lima Titik Pengungsian

Carik Kalurahan Girikerto Krisna Cahyana.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)

Pemerintah Kalurahan Girikerto, Turi, telah melakukan pendataan warga terdampak erupsi Merapi apabila terjadi peningkatan status siaga ke level awas. Berdasarkan pendataan sementara, tercatat sekitar dua ribu jiwa di kawasan rawan bencana (KRB) III radius 5-7 km. Meliputi Padukuhan Ngandong dan Nganggring.

“Kami sudah mendata jumlah jiwa seandainya nanti akan diintruksikan mengungsi,” ungkap Carik Kalurahan Girikerto Krisna Cahyana di kantornya, Senin (18/1). Dari jumlah itu sekitar 200 jiwa warga masuk kelompok rentan. Selain itu hewan ternak sekitar 200-an.

Krisna menuturkan, apabila radiusnya ditambah, maka catatan warga yang hendak diungsikan diperluas. Terkait hal ini, pihaknya bekerjasama dengan relawan lokal, BPBD Sleman dan SAR DIJ. Pihaknya juga bekerja sama dengan kalurahan penyangga, di antaranya Kalurahan Pandowoharjo dan Trimulyo, Kapanewon Sleman.

Lima titik pengungsian dan posko induk telah disiapkan sebagai upaya kesiapsiagaan. Antara lain, posko induk di Balai Kalurahan Girikerto. Barak tempat evakuasi akhir (TEA) di Dusun Soprayan, Padukuhan Bangunmulyo, Girikerto, tiga gedung sekolahan dan satu gedung gereja.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menyebut, total barak pengungsian yang sudah disiapkan dan sudah dilakukan penyekatan lebih dari 12. Meliputi Kapanewon Cangkringan, Pakem, dan Turi. Khusus di bagian barat terdapat empat barak pengungsian yakni di Kalurahan Wonokerto, Girikerto, Purwobinangun dan Pandanpuro. “Rata-rata setiap desa sudah punya barak pengungsian,” tambahnya. (mel/laz)

Jogja Raya