RADAR JOGJA- Sejak pandemi Covid-19, semua kegiatan mulai dari perkantoran, pendidikan, pariwisata hingga bisnis terpuruk karena akibat penyebaran virus jahat tersebut.

Segala upaya pemerintah telah melakukan kebijakan, diantaranya memberlakukan Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PSTKM) dengan harapan bisa mencegah peredaran virus tersebut.

Namun hingga kini virus tersebut, belum juga sirna. Bahkan secara resmi pemerintah telah memperpanjang PSTKM se Jawa-Bali mulai 26 Januari hingga 14 hari ke depan.

Kebijakan tersebut tentunya mengundang pro dan kontra dalam masyarakat, terutama bagi para pelaku usaha di kawasan Malioboro dan Jalan Achmad Yani.

Pasalnya, sejak Oktober 2020 lalu sampai sekarang sudah ada 10 toko yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani (PPMAY) gulung tikar, karena tak sanggup bertahan di tengah pandemi Covid-19. Bahkan ada beberapa toko yang akan dijual.

Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) yang diterapkan di DIJ membuat pengusaha di kawasan Malioboro mengeluh. Pasalnya omzet pertokoan di Malioboro anjlok selama PTKM.

Karyanto Yudomulyono, Koordinator PPMAY, mengatakan untuk para pemilik toko memilih tutup lantaran kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dinilai menyulitkan pengusaha di kawasan Malioboro dan A Yani melakukan usahanya.

Menurut Karyanto, kebijakan PSTKM cukup memberatkan para pelaku usaha lantaran adanya pembatasan jam operasional sampai pukul 19.00 WIB. Untuk itu, pihaknya minta kebijakan ditinjau ulang atau dengan memberi kelonggaran waktu untuk buka usaha. “Kami berharap suara kami bisa didengar oleh pemda DIJ. Karena sudah ada 10 toko yang tutup, karena sudah tidak mampu bertahan lagi,” ujarnya  Sabtu (23/1).

Menurut dia, rata-rata para pelaku usaha yang tak sanggup bertahan tersebut menjual pakaian, sepatu dan souvenir khas Jogja. Begitu juga toko pakaian dan sebagainya. Alasan menutup tempat usahanya tersebut, karena pengusaha merasa berat membayar pajak, listrik dan gaji para karyawannya, sementara beberapa bulan terakhir kawasan Malioboro sepi pengunjung akibat kebijakan yang serba mendadak dari pemerintah.

Ia juga menyayangkan penekanan pembatasan jam operasional tempat usaha hanya berlaku di kawasan cagar budaya antara Keraton-Titik Nol-Kawasan Malioboro dan Tugu Pal Putih. Jujur saja sejak kebijakan Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PSTKM) omzet pedagang maupun pemilik toko turun drastis dan rugi. ”Sejak diberlakukan PSTKM, jualan kami tidak laku,” katanya.

Ketua Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY), Sadana Mulyono menguraikan, ada tiga faktor yang saling berkaitan penyebab anjloknya omzet para pengusaha.

Pemberlakuan PTKM, ditambah dengan diberlakukannya Malioboro bebas kendaraan pukul 18.00 – 21.00 WIB dan ditambah dengan musim hujan, membuat omzet pertokoan Malioboro anjlok cukup tajam. “Mungkin drop antara kurang lebih 30-50 persen,” kata Sadana.

Sudana menambahkan, PTKM yang saat ini diterapkan belum terbukti mampu turunkan jumlah kasus Covid-19. Karena itu perpanjangan menurutnya PTKM tidak ada fungsinya.

“Saran saya ya dibatalkan saja tidak usah PTKM,” tambahnya.

Ia menilai, dengan PTKM perdagangan sepi, namun kasus COVID-19 juga tidak turun. Yang menurutnya harus dilakukan adalah dengan pengawasan kerumunan massa.

“Ada petugas khusus yang mengingatkan dan kalau ada pengunjung atau wisatawan masuk ke Jogja, itu diperketat,” katanya.

Dia juga menilai penularan kasus COVID-19 saat ini malah justru terjadi di keluarga, bukan di pusat perdagangan. Karena itu, dari 220 pengusaha anggota PPMAY menurutnya belum ada yang tutup, tetap buka dengan menerapkan protokol kesehatan. “Pesan kami janganlah diadakan PTKM lagi,” pungkasnya. (sky)

Jogja Raya