RADAR JOGJA – Pemkot Jogja sudah mengantisipasi bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi. Sudah dipetakan ancaman bencana yang terjdi di Kota Jogja.

Kepala Bidang Darurat Logistik dan RR Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Budi Purwono memprediksikan, potensi bencana rutin awal-awal tahun tidak lain yaitu hujan, tanah longsor, maupun banjir. Pun akibat potensi bencana tersebut yang terdampak sering kali terjadi pada permukiman bantaran sungai. “Biasanya memang area-area tebing sungai,” katanya Minggu (17/1).

Selain itu, aktifnya Gunung Merapi yang semakin tinggi juga menjadi poin yang harus disiagakan untuk pemantauan. Manakala terjadi potensi hujan dengan intensitas tinggi maupun tidak, tetapi potensi banjir kiriman dengan debit air yang tinggi menjadi hal yang perlu diwaspadai pula. “Karena pola alirannya sebagian ada di sungai kota yang berhubungan langsung dengan puncak merapi,” ujarnya.

Beberapa sungai tersebut yang langsung berhubungan dengan aliran dari puncak Gunung Merapi khususnya sungai Code. Tapi sungai lain seperti Gajah Wong, dan Winongo juga berpotensi sama dialiri debit air yang tinggi jika turun hujan lebat. Ini juga belajar dari pengalaman erupsi Merapi pada 2010 lalu.

“Memang sungai yang berhulu di Merapi kemudian membawa material lahar, hujan kemudian menjadi memperparah ketika ada hujan dan lahar,” paparnya. “Khususnya sungai code, mungkin karena berada di tengah kota tingkat kerawanan tinggi. Karena kepadatan di bantaran sungai dan keterpaparan penduduk lebih besar,” lanjutnya.

Bagaimana menyiapkan skenario penyelamatan? Disamping personel KTB telah dilengkapi sarana prasarana alat komunikasi. Juga ada 12 titik rawan telah dipasang alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini di bantaran sungai yang banyak penduduk. Pos pantau juga disiagakan di Jembatan Ngenthak Sleman untuk memantau situasi kondisi jika muncul bencana. EWS ini sebagai sarana menyampaikan informasi atau peringatan dini manakala muncul banjir kiriman dadakan dari puncak merapi, maka kemudian masih ada jeda waktu sekitar 45 menit untuk masyarakat kota Jogja bersiap melakukan pengungsian sementara. “Kesiasiagaan latihan seperti ini dengan pola titik kumpul yang sudah kita latih ke wilayah,” terangnya.

Pun ketika terjadi longsor dadakan skema penanganan sementara juga sudah disiapkan. Kebijakan darurat ditempuh dengan membantu terpal untuk penanganan sementara longsor dan membantu warga pengungsian jika dibutuhkan. “Tapi wilayah KTB yang tidak di bantaran sungai mereka punya kewajiban membackup pengamanan di wilayah daerah rawan,” imbuhnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, antisipasi terhadap berbagai bencana sudah disiapkan. Program-program kesiapsiagaan ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan setiap datangnya musim pancaroba dan musim hujan.

Nur menjelaskan persiapannya itu ialah menyiapkan pelatihan-pelatihan dari masyarakat untuk mengantisipasi segala macam kondisi yang ada. Programnya menyasar KTB yang sudah terbentuk 70 persen di wilayah Kota Jogja. Atau 115 KTB dari total 169 kampung di Kota Jogja. “Pola dan tata laksana semua sudah kami lakukan termasuk pantauan-pantauan kejadian darurat dan koordinasi dengan Dinas terkait,” ujar mantan Camat Kotagede itu. (wia/pra)

Jogja Raya