RADAR JOGJA- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat kembali luncuran awan panas guguran sejauh 1 kilometer pada pukul 17.00 WIB, Sabtu (16/1). Diiringi kolom erupsi setinggi kurang lebih 200 meter di atas puncak.

Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso mengatakan, awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo 28 mm berdurasi 83 detik. “Visual tertutup kabut dan angin bertiup ke timur,” katanya.

Agus menambahkan, untuk guguran, BPPTKG mencatat  23 kali dengan amplitudo 3-23 mm dengan durasi 15-122 detik. “Untuk hembusan 5 kali dengan amplitudo 4-8 mm berdurasi 12-29 detik. Untuk tektonik jauh 1 kali dengan Amplitudo 8 mm berdurasi 151 detik,” tambahnya.

Dalam konferensi persnya, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso mengatakan memasuki bulan Januari, erupsi mengarah ke barat daya. “Ini berbeda dari rekomendasi BPPTKG sebelumnya berdasarkan data amatan waktu itu yang memperkirakan erupsi akan mengarah ke barat laut,” ujarnya.

Untuk erupsi Gunung Merapi, Agus menyebut saat ini lebih dominan efusif sebesar 40% dibanding eksplosif (meletus-red). “Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer,” katanya.

Petugas BPPTKG juga menyebut bila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkaniknya dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Untuk rekomendasi dari BPPTKG, penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan dan pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.(sky)

Jogja Raya