.

RADAR JOGJA – UPT Malioboro kini namanya sudah berubah menjadi UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya. Lingkup pengawasannya ditambah. Tak lagi hanya Malioboro, tapi lima kawasan cagar budaya Kota Jogja. Bahkan direncanakan hingga Kandang Menjangan di Sewon, Bantul. Tapi jumlah personelnya tak bertambah.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, JOGJA, Radar Jogja

Bangunan mirip ruko di kawasan Tegal Panggung, Danurejan, Kota Jogja jadi kantor UPT Malioboro selama ini. Untuk mengkoordinir Jogoboro yang mengawasi kawasan Malioboro. Tapi itu dulu. Kini sudah menjadi kantor UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya. Jadi pusat pengawasan lima kawasan cagar budaya di Kota Jogja

UPT Malioboro sekarang berubah kelembagaan menjadi UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya. Yang dulunya di bawah Dinas Pariwisata, kini juga diubah di bawah Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Otomatis, kelembagaan baru ini tidak hanya mengawasi satu kawasan Malioboro melainkan kawasan-kawasan cagar budaya yang ada di kota Jogja.

Mantan Kepala UPT Malioboro Ekwanto kini didapuk menjadi Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Jogja. Ekwanto mengatakan ketugasan dan tanggungjawab menjadi bertambah dengan perubahan kelembagaan ini. Namun, untuk tahun ini pengawasan belum mencakup lima kawasan cagar budaya di kota Jogja yakni Malioboro, Keraton, Pakualaman, Kotagede, dan Kotabaru. “Saat ini baru di tiga kawasan cagar budaya yaitu Tugu, Malioboro, Alun-alun Utara,” katanya belum lama ini.

Ekwanto menjelaskan tanggung jawab tahun ini hampir sama dengan sebelumnya. Sementara ini, jangka pendek yang dicapai atau baru dirancang sebatas dalam mengawasi aspek kebersihannya dulu. Aspek lainnya? “Masih dalam diskusi dan pemetaan, kami masih memetakan dulu ke depan nanti,” ujarnya.

Menurut dia, penting untuk menjaga dan mengutamakan tiga kawasan cagar budaya tersebut dari aspek kebersihan. Sebab, bersih menjadi pondasi utama yang harus ditonjolkan manakala orang datang ke Jogja. “Karena bersih menjadi pandangan mata yang pertama ketika orang datang ke Jogja. Ketiga cagar budaya itu harus kami sterilkan dari sampah karena menjadi ikon Jogja. Jadi harus terkondisi terutama kebersihannya,” jelasnya.

UPT yang termasuk tetap mengelola dana keistimewaan itu juga mengalami penambahan bidang. Yaitu penambahan dua seksi, yang sebelumnya ada koordinator  dihapuskan. Saat ini di pecah menjadi seksi pemeliharaan kawasan cagar budaya dan seksi kemanfaatan kawasan cagar budaya. “Jadi kami punya dua seksi di bawah kami yang dulu jadi koordinator sekarang tidak ada. Kepala seksi sekarang yang ada, masih baru-baru semua orangnya,” jelasnya.

Pun petugas di lapangan juga masih sama sebelumnya. Total keseluruhan sumber daya manusia (SDM) di lapangan berjumlah 180 personel dari unsur Satpol PP, Jogoboro, dan PAM Budaya untuk mengawasi tiga kawasan itu. Ditambah ada petugas kebersihan dari Tugu – Alun-alun Utara. Dan petugas kebersihan atau penyapu ini tidak lagi melalui pihak ketiga melainkan kontrak langsung dari UPT. Sifatnya kontrak perorangan. Ini berdasarkan evaluasi dengan pihak ketiga, UPT masih kesulitan mengkondisikan mereka. “Sehingga kita akan coba kontrak perorangan kita tangani sendiri. Penggal sini sampai sini tugasmu, misal kalau nggak bersih ya sewaktu-waktu kita bisa ganti petugasnya. Ini sudah mulai jalan, per 4 Januari,” kata mantan Lurah Prawirodirjan itu.

Meski ketugasan bertambah dengan perombakan nama kelembagaan ini, dia tetap optimis melakuka tanggungjawabnya ini. Sebab, penambahan area kewenangannya juga seiring dengan penambahan SDM. “Ini sudah selayaknya tetap optimis karena dibarengi penambahan SDM. Jadi kami tidak menjadi persoalan dan kesulitan,” imbuhnya. (pra) 

Jogja Raya