RADAR JOGJA – Selain bersiap untuk divaksin, nakes juga masih harus bekerja keras. Karena data harian kasus Covid-19 di DIJ terus mengalami kenaikan. Penambahan ruang isolasi masih menjadi solusinya.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien, RS diminta menambah kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU. Minimal 30 persen dari kapasitas masing-masing RS. Kepala Diskes Sleman Joko Hastaryo mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 445/0038 terkait hal tersebut sebagai tindaklanjut dari surat Kemenkes Nomor YR.03.03/III/4643/2020.

Disebutkan data ruang isolasi terus dinamis. Berdasarkan pantauan terakhir, total bed isolasi RS di Sleman non kritikal sebanyak 259. Sedangkan yang sudah terisi ada 241 bed. Sehingga kalau ditotal kurang lebih 85 persen terisi. “Yang kritikal (kategori ICU) dari 22 yang terisi 21, jadi tinggal satu bed,” sebut Joko, Rabu

(13/1).

Melalui SE tersebut pihaknya sudah meminta agar RS menyediakan kapasitas minimal 30 – 35 persen dari kapasitas tempat tidur RS masing-masing. Selain itu RS dapat memberikan pelayanan bagi pasien Covid-19 dan jika melakukan rujukan, dipastikan pasien dalam kondisi stabil dan layak rujuk. Pihak RS diminta melakukan upaya pencegahan pengendalian infeksi (PPI) dengan baik agar tenaga kesehatan tidak terpapar Covid-19.”Sudah ada beberapa RS yang merespon, yang menginformasikan dalam waktu dekat akan menambah sekian tempat tidur. Tapi sampai hari ini belum operasional kecuali RS Sardjito, RSUD Sleman juga sudah menambah tapi sudah terserap lagi sampai kemarin sore,” kata Joko.

Pasien Covid-19 diisolasi di RS ini, mereka yang bergejala. Untuk pasien tanpa gejala (OTG) dapat melakukan isolasi mandiri atau di faskes darurat yang disediakan. Yakni di Rusunawa Gemawang dan Asrama Haji.

Kata Joko, tracing tetap dilakukan. Namun tidak untuk swab test. Swab test hanya diperuntukkan bagi kontak erat yang bergejala. kontak erat tidak bergejala tidak dilakukan swab test, melainkan hanya dipantau melalui gadget.

Adapun kendala yang ditemui, di beberapa wilayah Puskesmas kasusnya sangat tinggi. Sedangkan nakesnya terbatas. Terlebih saat ini diharuskan menerapkan work from home (WfH) sebagian. Sehingga pemantauan dilakukan melalui handphone masing-masing kontak eratnya. Kendala lain, masyarakat masih mengira semua kontak erat akan di swab test. Namun menurut pedoman Kemenkes, hanya yang bergejala saja yang dilakukan swab. Sebab, keterbatasan labolatorium yang ada.

Dari 25 Puskesmas di Sleman, lima Puskesmas yang menunjukkan kasus tinggi antara lain, Puskesmas Ngaglik, Gamping II, Depok I, Depok II dan Depok III. Hal itu tak lepas dari faktor kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas di wilayah tersebut.

Nah, berdasarkan total angka kematian kasus Covid-19, sebut Joko, ada 116. Maret sampai November 2020 jumlahnya 44 orang. Desember 2020 ada 48 orang dan hingga 12 Januari sebanyak 24 orang.”Mayoritas pasien MD karena punya penyakit penyerta (kormobid),” paparnya.

Selain di Sleman, permintaan penambahan ruang isolasi juga di Kota Jogja. Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Muhammad Ali Fahmi menyebut, terjadinya peningkatan signifikan jumlah positif corona baik yang disertai gejala maupun OTG. Per 12 Januari 2021 terdapat 2.861 kasus, terdiri, 1.010 pasien dirawat, sembuh 1.767 dan meninggal 86. Di Kota Jogja saat ini ada tujuh RS rujukan milik pemerintah maupun swasta, satu shelter milik pemkot di Rusunawa Bener Tegalrejo Jogja serta ada beberapa selter milik komunitas.

“Pengadaan tambahan selter oleh Pemkot sudah sangat mendesak untuk segera direalisasikan untuk pasien OTG maupun bergejala ringan. “Ketersediaan shelter milik Pemkot hanya ada 42 ruang dan 84 bed, sedangkan pasien OTG yang mendaftar ke shelter sangat banyak,” kata dia.

Menurut Fahmi, beberapa hari yang lalu ruang selter penuh dan pasien OTG yang mendaftar harus antri baru bisa masuk shelter 2-3 hari kemudian sehingga dikhawatirkan penyebaran virus korona semakin meluas dan penanganan terhadap pasien kurang maksimal. Untuk itu Pemkot agar segera menambah shelter untuk pasien OTG Kota Jogja dengan menggunakan dana APBD Kota Jogja 2021. “Tentunya disertai ketersediaan fasilitas penunjang yang memadai, makanan dengan gizi yang cukup serta didampingi dokter dan tenaga kesehatan,” pintanya. (mel/pra)

Jogja Raya