RADAR JOGJA – Tower II rumah susun (Rusun) Tegalrejo akan segera dibangun pada tahun ini. Rusun tersebut nantinya diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

”Ini berkat usulan sejak 2018 lalu yang telah dikabulkan pemerintah pusat untuk dibangun tahap dua,” terang Kepala Bidang Perumahan Permukiman dan Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja, Sigit Setiawan Rabu (13/1).

Dijelaskan usulan itu sudah disampaikan pemkot sejak 2018 lalu. Sebab, awalnya memang mengusulkan dua rusun. Namun baru satu unit yang telah terbangun. “Tapi yang sudah terbangun baru satu unit yang sekarang untuk sementara digunakan sebagai shelter isolasi mandiri pasien Covid-19 tidak bergejala,” katanya.

Pada intinya, rusun tahap dua akan dibangun sama halnya dengan Tower I. Lokasi rusun itu pun nantinya berdekatan dengan yang sudah terbangun saat ini. Persisnya di sebelah selatan berupa lahan tegalan. Namun, saat ini sudah dilakukan proses land clearing atau pengurukan pada tahun lalu. “Intinya sama cuma bangunannya tidak hadap-hadapan,” ujarnya.

Teknis pekerjaan pun sama dengan tower I baik dari sisi jumlah kamar 42 unit serta komposisinya. Sehingga selain kamar akan ada ruang aula, musala maupun kantor pengelola berikut dengan furniturnya. “Hanya nanti bentuknya jadi leter L gitu,” jelasnya.

Meski pembangunannya dilakukan penuh oleh pusat, namun nanti pemanfaatan dan pengelolaannya diserahkan ke Pemkot Jogja melalui skema hibah. Kepastian rencana pembangunan Tower II Rusun Tegalrejo itu pun setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan proses lelang pekerjaan pada Nobember 2020.

Nama paket pekerjaan itu ialah pembangunan rusun MBR Kota Jogja senilai Rp 24,5 miliar. ”Itu dialokasikan melalui APBN. Memang lelang dini dan harapannya tahun ini bisa dibangun oleh pusat dengan jangka waktu sekitar 8 bulan sampai 9 bulan,” terangnya.

Kendati kelak pekerjaan fisik dilakukan masih dalam kondisi pandemi, namun dipastikan tidak akan mengganggu operasional Tower I yang kini dijadikan shelter. Sebab, akses shelter sudah dibangun terpisah. ”Tetapi akan ada pengaturan ulang terkait beberapa posko pendukung shelter,” tambahnya.

Menurutnya, terkait dengan pengisian rusun dikelola melalui unit pelaksana teknis (UPT). Calon penghuni tetap diseleksi secara ketat karena hanya berlaku bagi penduduk kota dengan penghasilan rendah. Pun Tower I yang sudah selesai dibangun sudah ada persetujuan pengelolaan sementara.

”Tetapi karena kondisi pandemi, maka kami minta izin untuk dijadikan shelter dulu. Setelah itu nanti ada mekanisme pengisian, dan proses hibah juga masih terus berjalan,” imbuhnya. (wia/bah)

Jogja Raya