RADAR JOGJA – Bupati Sleman bersama jajarannya melakukan pemantauan kesiapan fasilitas bagi warga Merapi dalam menghadapi erupsi Rabu (14/1). Pantauan dilakukan di wilayah Turi, Pakem hingga Cangkringan. Ditemukan, ada dua jalur evakuasi yang masih rusak dan perlu diperbaiki.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan, jalan rusak yang ditemukan ada satu titik di wilayah Wonokerto, Turi sepanjang satu kilometer. Jalur tersebut adalah ruas jalan Tunggul Arum – Gondo Arum. Sedangkan laporan jalan rusak lainnya ditemukan di wilayah Purwobinangun sepanjang 100 meter.

Kerusakan yang terjadi, kata SP, memang belum diperbaiki secara permanen. Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera melakukan perbaikan. Agar bisa digunakan sewaktu-waktu oleh masyarakat untuk mengungsi saat erupsi terjadi. “Anggaran masih dilihat dan dihitung, dengan cara gotong royong nantinya akan bisa meminimalisir anggaran untuk perbaikan jalur,” jelas SP.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Taupiq Wahyudi menuturkan pihaknya masih akan melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman. Untuk bisa memetakan jalur yang akan diperbaiki masuk ranah DPUPKP berupa jalan Kabupaten. Atau jalur-jalur kecil yang bisa ditangani oleh BPBD dengan cara dicor blok.Menurut Taupiq, jalur rusak saat ini ada di wilayah Tunggul Arum, Wonokerto dan Turgo, Purwobinangun. “Tidak banyak dan itu jalan-jalan akses kecil. Nanti bisa dilihat akan ditangani DPUPKP atau BPBD,” kata Taupiq.

Jalur evakuasi yang rusak, Taupiq mengaku tidak terlalu parah. Dimungkinkan, perbaikan akan menggunakan biaya tak terduga (BTT). Sedangkan untuk ketersediaan kamar mandi atau WC yang ada di Tunggularum, Taupiq mengaku pihaknya akan segera menanganinya.

Sedang di jalur evakuasi di Kalurahan Girikerto ditemui belum miliki penerangan jalan umum (PJU). Hal ini dikarenakan jalur tersebut tidak memiliki jaringan listrik. Plt Kepala Dishub Sleman Arip Pramana menjelaskan tidak adanya penerangan di dua titik sepanjang 600 meter dan 500 meter. Hal ini dikarenakan tidak adanya jaringan listrik membuat wilayah tersebut belum bisa dipasang PJU. Meskipun demikian, disebutkan Arip ada aliran listrik hanya bertegangan tinggi. “Lebih dari 220 volt, jadi tidak bisa ditarik untuk penerangan,” kata Arip.

Arip mengaku, pihaknya telah mengusulkan pemakaian solar cell untuk digunakan sebagai energi penerangan. Hanya saja, hal ini masih dirasa sulit karena wilayah Girikerto yang rimbun dengan pepohonan. “Solar cell harusnya di ruang terbuka,” lanjutnya.

Meski demikian, saat ini Dishub akan menambahkan titik penerangan di wilayah jalur evakuasi Glagaharjo. Nantinya, akan ditambahkan kurang lebih 9 titik. “Anggaran masih ada sisa bahan tahun lalu, termasuk kami masih menggunakan bahan-bahan sisa kemarin,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Glagaharjo Suroto menuturkan mulai hari ini (14/1) akan ada penambahan PJU di jalur evakuasi Galagaharjo sepanjang dua kilometer. Sebelumnya, pemasangan PJU sudah dilakukan namun masih dirasa kurang. Rencananya, akan dipasang tiang sebanyak sembilan titik. “Namun akan dipasang empat tiang terlebih dahulu karena ada sisa bahan di 2020,” ungkap Suroto.

Sebelum diperbaiki, jalur tersebut tertutup material erupsi Merapi 2010. Tepat berada di Padukuhan Glagah Malang, Ngancar dan Gading. Jalur tersebut adalah jalur utama yang biasa digunakan masyarakat. “Kalau yang lain untuk penerangan sudah ada dan aman,” tambahnya. (eno/pra)

Jogja Raya