RADAR JOGJA – Penerapan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di DIJ sejak 11 Januari lalu menemui beberapa tantangan. Salah satunya adalah soal banyaknya tempat usaha, atau wisata yang masih belum paham soal aturan di PTKM itu. Utamanya soal jam operasional tempat usaha maupun wisata yang harus sudah tutup atau tidak melayani makan di tempat sejak pukul 19.00.

Noviar Rahmad.(Hery Kurniawan/Radar Jogja)

Hal itu disampaikan Koordinator Pengamanan dan Penegakan Hukum Gugus Tugas Covid-19 DIJ Noviar Rahmad. Bahkan, menurut pantauan dari Gugus Tugas, ada cukup banyak tempat usaha maupun tempat wisata yang melanggar aturan PTKM di hari pertama. “Menurut pantauan kami Senin (11/1), ada enam kantor dan enam tempat makan yang tidak taat aturan PTKM,” kata Noviar Selasa (12/1).

Dikarenakan masih banyak masyarakat yang belum memahami tentang kebijakan PTKM, Satpol PP DIJ tidak melakukan tindakan berupa sanksi bagi tempat usaha, selama dua hari sejak kebijakan PTKM diberlakukan. “Dua hari ke depan belum kami lakukan penegakan. Masih sekadar imbauan sekaligus sosialisasi. Karena masih banyak yang belum paham soal kebijakan PTKM,” tandasnya.

Sementara solusi bagi penjual angkringan dan warung makan kaki lima, Noviar mengatakan tidak dilakukan penutupan. Akan tetapi setelah pukul 19.00 warung tersebut tidak boleh melayani pedagang yang makan di tempat. “Solusi warteg, angkringan, pecel lele, berupa pengetatan terbatas dan tidak menutup, tapi pembatasan. Kalau buka sore hari, setelah jam 19.00 layanan bungkus masih diperkenankan. Kalau merasa terlalu membebani, silakan buka lebih awal,” tegas kepala Satpol PP DIJ ini.

Terpisah, Anton salah seorang karyawan warung kopi di sekitaran Nologaten, Sleman, mengaku pihaknya sudah mencoba mengikuti aturan dari pemerintah tersebut. Seperti mengurangi kapasitas pengunjung. Bahkan, menurut Anton, warung kopinya sudah tutup ketika memasuki pukul 19.00.

“Walaupun agak aneh warkop kok habis Magrib tutup, tapi tetap kami laksanakan,” katanya. Anton hanya berharap PTKM ini bisa berjalan efektif, sehingga menurunkan kasus penularan Covid-19. (kur/laz)

Jogja Raya