RADARA JOGJA – Tak sedikit orang yang memiliki pengalaman menarik hingga mistis, khususnya saat era tahun 70-an di Goa Selarong. Staf Ahli Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota Jogja Hari Wahyudi misalnya. Ia ternyata cukup sering mengunjungi wisata bersejarah tempat Pangeran Diponegoro bersembunyi dari pasukan Belanda. Saat itu masih belia, sekitar usia 12-17 tahun.

“Ya, relatif sering ke Goa Selarong. Dulu pernah acara Pramuka, hiking ke sana, tapi yang lebih sering sepedaan nyari jambu,” katanya kepada Radar Jogja.

Alasan cukup sering mengunjungi Goa Selarong karena pada saat itu masih alami. Goa yang bangunannya cukup pendek itu, juga menjadi pengingat masa lalu untuk belajar tentang pendidikan sejarah. Bagaimana perjuangan Pangeran Diponegoro meloloskan diri dari pasukan Belanda hanya dengan berkuda.

“Saya bayangin kalau sampai sana, Pangeran Diponegoro itu dulu tidurnya di sini apa gimana. Karena rasanya kayak cuman emperan,”  ujarnya bercerita.

Namun di sisi lain kesan yang menarik adalah pohon jambu yang tumbuh persis di atas goa. Kala itu, pohon jambu menjadi daya tarik anak-anak muda untuk diburu. Termasuk mantan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja itu.

“Cuman yang penting saat itu bukan ke goanya, tapi nyari jambunya. Itu asyik. Kenangan yang menarik itu, kan anak muda kalau dapat kayak gitu seneng,” ungkapnya.

Biasanya, setiap hari Minggu tak luput untuk memburu pohon jambu. Tak peduli dan tidak kenal rasa takut meski pohon tumbuh di atas goa. Ia menuju langsung ke atas goa kala itu dengan bersepeda bersama teman-temannya. Waktu itu, jalan menuju puncak goa masih alami, hanya berupa jalan setapak. Hingga pernah beberapa kali terjatuh dari sepeda akibat medan terlalu tinggi.

“Ya, cukup tinggi, tapi ada jalan yang langsung bisa dilalui sampai atas. Jadi sepeda bisa diparkir di atas. Dulu saya nekat sekali, demi pengen makan jambu di situ,” ceritanya mengenang sambil tertawa.

Selain itu, pengalaman mistis pun dialaminya. Ia juga beberapa kali sering mengalami kecelakaan kecil terjatuh dari sepeda. Meski hal itu dianggapnya hanya kecelakaan ringan. Namun, menurutnya, jalan menuju goa tempat ia terjatuh juga sering dialami oleh anak-anak lain.

“Cuma  tiba-tiba kayak ada kerikil terjatuh atau jalannya berpasir terus kepleset, ya kayak gitu aja. Saya ambil positifnya aja dulu, oh mungkin ini cuma kurang sopan aja,” jelasnya.

Terakhir berkunjung awal tahun 2000-an. Itu pun tidak ke goa, melainkan ke rumah saudara kandungnya yang tak jauh dari kawasan Goa Selarong. Ia melihat muncul perbedaan dari tahun 70-an ke 2000-an yakni sudah nampak ada renovasi dan penambahan bangunan.

“Seperti ada dibikin undak-undakan, tapi jadi nggak terlihat asli lagi. Tapi mungkin untuk fasilitas orang yang tidak biasa hiking, jadi untuk memudahkan,” tambah Hari. (wia/laz)

Jogja Raya