RADAR JOGJA – Goa Selarong yang di era 80a-an menjadi tempat wisata ngehits, merupakan lokasi bersejarah. Berapa tidak, lokasi ini menjadi tempat pelarian pertama Pangeran Dipenegoro setelah Ndalem Tegalrejo dibakar. Diponegoro dan pasukkannya tiba di Selarong pada Kamis, 21 Juli 1825. Kemudian memulai Perang Jawa, 1825-1930.

“Penghujung bulan Juli 1825, Selarong pun digunakan sebagai markas pertama dan markas besar Perang Jawa oleh Diponegoro,”  ungkap Pendiri dan Ketua KPSKP (Komunitas Penggiat Sejarah Kulon Progo) Ahmad Athoillah saat dihubungi Radar Jogja, Kamis (8/1).

Menurut kandidat doktor sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, lokasi Goa Selarong sendiri memiliki beberapa keuntungan sebagai markas. Selarong ternyata adalah tanah pelungguh milik Pangeran Diponegoro sejak bulan Juli 1812. Sehingga Pangeran Diponegoro mendapat dukungan loyalitas masyarakatnya.

Ahmad Athoillah.(ISTIMEWA)

Selain itu, Diponegoro pun menjalin keakraban dengan masyarakat Selarong. Seperti turut panen padi sejak tahun 1805. “Diponegoro juga sering melalui atau mampir di Selarong ketika berjalan-jalan dari Pasar Kotagede, Imogiri, dan Goa Langse. Bahkan Diponegoro memiliki tanah atau kebun buah dan sayur di Selarong,” kata pria yang juga pernah melakukan riset tesis dan studi Islam di Unit Bibliothek Universiteid Leiden itu.

Sebelum Perang Jawa pecah, Diponegoro juga sering bertapa di Gua Secang (Selarong) selama bulan puasa dan membangun tempat ini menjadi tempat yang indah. Bangunan itu ditembok keliling setinggi manusia, memiliki tempat pertemuan, pintu masuk, tangga dari batang palem gebang, bahkan dengan berbagai koleksi binatang dan beberapa pepohonan seperti widoro.

“Selarong dapat disebut sebagai miniatur pesanggrahan Pangeran Diponegoro sesudah Ndalem Tegalrejo. Seperti Krapyak-nya HB I yang tinggal di keraton. Bahkan disebutkan, Diponegoro hampir setiap malam tidur di Selarong, kemudian baru esoknya kembali ke Tegalrejo,” papar Athoillah yang kelahiran Sei Baru, Kalimantan Tengah, ini.

Dengan itu Diponegoro kemudian menjadi sosok populer, dikenal, dan terkenal di kawasan Selarong. Desa Selarong yang dipenuhi dengan perbukitan kapur dan hutan serta desa yang luas, ternyata tempat strategis untuk gerilya. Selain itu, dekat dengan Keraton Jogja serta berbagai pintu akses kota negara, Bagelen, dan Madiun.

Selarong juga terdapat aliran sungai yaitu Winongo dan Bedog, serta lainnya yang juga cukup untuk memenuhi kebutuhan pasukan, dan yang jelas adalah gudang padi untuk makan ratusan atau ribuan pasukannya. “Dan yang lebih istimewa, bahwa dekat Selarong terdapat sebuah desa berbasis pesantren yang kuat, di bawah pimpinan Kiai Kasongan sekaligus mertua Diponegoro ketika menikahi Raden Ayu Retnokumolo tahun 1827, yang sejak awal perencanaan perang Jawa  sangat mendukung Diponegoro,” ungkap mantan santri Kompleks-K PP Al-Munawwir Krapyak ini.

Tidak jauh dari Kasongan juga terdapat situs-situs yang menyimbolkan ‘semangat perjuangan agamis’ yang dikoordinasi oleh para juru kunci seperti makam Kuncen Jogj, makam dan pengurus serta santri di Masjid Dongkelan, serta pegawai makam keramat di Makam Sewu (Pajangan) yang semuanya tidak jauh dari Selarong.

“Pada awal abad ke-19, poros basis Islam telah muncul seperti Selarong-Kasongan-Tegalrejo-Dongkelan-Papringan (antara Jogja-Prambanan). Di Selarong terdapat gua, yang tidak jauh dari pemukiman dan sumber air, dapat untuk bersembunyi untuk para keluarga dan perempuan dari pihak Pangeran Diponegoro,” sebut ayah empat anak ini. (fat/laz)

Jogja Raya