RADAR JOGJA – Pemerintah pusat memutuskan untuk menerapkan PSBB ketat di sejumlah wilayah Jawa-Bali 11-25 Januari sebagai upaya pengendalian kasus Covid-19 di Indonesia. Selain PSBB ketat, kemampuan tracing di daerah juga harus ditingkatkan.

Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama menjelaskan, tracing kontak kasus positif adalah salah satu sumber pengetesan. Yang mana dari standar WHO, untuk minimum pengetesan yaitu 1 tes setiap 1.000 orang per minggu dan positivity rate di bawah 5 persen.

Selain tracing, pemerintah juga harus bisa memberikan edukasi dan contoh berkenaan dengan kedisiplinan untuk menjalankan 3M. “Jangan masyarakat disuruh-suruh 3M dan tidak keluar daerah, tetapi para pejabatnya tidak taat memakai masker, atau bahkan liburan ke mana mana,” jelas Bayu Kamis (7/1).

Agar pembatasan ketat bisa berjalan dengan baik, kata Bayu, pemerintah juga harus bekerjasama dengan berbagai pihak. Seperti pemilik tempat makan, toko, mal, dan lapisan masyarakat lainnya. Seperti menerapkan kuota 50 persen untuk tempat makan. Jika tidak menerapkan 3M, pemerintah juga memberlakukan denda.

“Tapi yang paling penting kerja sama yang baik antara pemerintah, swasta, pengusaha, universitas, masyarakat dan komunitas,” lanjutnya. Menurut Bayu, penerapan PSBB tepat dilakukan karena saat ini angka keterisian tempat tidur di rumah sakit atau fasilitas kesehatan dan angka kematian yang tinggi.

Tingginya angka positif Covis-19 juga disebabkan karena mobilitas warga saat libur akhir tahun kemarin. Ditambah banyaknya daerah yang tidak berhasil melakukan penanganan Covid-19, sehingga kasusnya menjadi naik. Jika tidak diminalisasi, dikhawatirkan keterisian RS bisa mendekati 100 persen.

Soal tingginya angka kematian akhir-akhir ini, menurut Bayu, bisa dikarenakan menular pada orang-orang dengan komorbid. Karena keterisian RS semakin tinggi, sehingga banyak dari mereka telat mendapat perawatan. Meskipun demikian, ia menyebut hingga saat ini belum ada data resmi yang dirilis seberapa besar pasien Covid-19 yang meninggal dengan komorbid. (eno/laz)

Jogja Raya