RADAR JOGJA – Fase erupsi Gunung Merapi kini telah dimulai. Hal itu ditandai dengan terjadinya guguran lava pijar sejak Senin (1/4) malam lalu. Lava pijar terlihat ada di kubah lava 1997.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida mengatakan, guguran lava pijar tidak terjadi sekali saja. Bahkan sampai Selasa (5/1) pagi tercatat telah terjadi lebih dari 40 kali.

Menurut Hanik, sebagian besar guguran itu merupakan material baru yang juga masih diikuti sisa material lama. Peristiwa guguran lava pijar pada Senin malam menandakan bahwa magma di dalam tubuh gunung api teraktif di dunia ini telah keluar dan sampai di permukaan.

Kendati demikian, Hanik menegaskan status Merapi saat ini masih siaga atau level III. Itu dikarenakan dampak yang diakibatkan dari guguran lava pijar masih belum membahayakan penduduk. “Jarak lemparannya hanya maksimal 150 meter dari puncak. Jadi masih siaga statusnya,” jelasnya Selasa (5/1).

Hanik juga menyampaikan, BPPTKG juga merekam pertumbuhan gundukan baru di puncak Merapi. Ia belum bisa memastikan apakah gundukan baru itu akan menjadi kubah lava 2021. “Kami belum bisa memastikan dan masih menunggu perkembangan, karena sampai saat ini akan kami pantau terus perkembangannya,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Jogjakarta Biwara Yuswantana meminta masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan. Apalagi belakangan ini aktivitas Merapi terus meningkat.

Biwara juga meminta masyarakat selalu memperbarui informasi terkait perkembangan Merapi di kanal-kanal media resmi. Termasuk dari BPPTKG maupun BPBD DIJ. “Monggo untuk bisa lebih intens memantau itu, termasuk mengkondisikan semua unsur,” ujarnya.

Biwara juga menyatakan, pihaknya sudah siap jika nanti Merapi benar-benar mengalami erupsi yang membuat masyarakat, terutama di wilayah bahaya, mengungsi. Proses evakuasi sudah direncanakan dengan matang. “Tidak usah panik. Setiap perkembangan kami usahakan secepat mungkin jalur-jalur juga sudah siap,” tandasnya.

Naiknya aktivitas Merapi ini membuat jumlah pengungsi di Barak Banjarsari, Cangkringan, terus bertambah. Panewu Cangkringan Suparmono menjelaskan, pengungsi yang berasal dari Padukuhan Kalitengah Lor hingga Senin (4/1) malam sudah mencapai 342 orang. Terdiri atas 16 bayi, lima balita, 61 anak-anak, 137 dewasa, 71 lansia, tiga ibu hamil dan 16 ibu menyusui.

Bertambahnya pengungsi, kata Suparmono, karena masyarakat sudah berencana mengungsi di hari Senin. “Sudah dari kemarin mereka berencana mau mengungsi,” jelasnya. Ia menuturkan, berkaitan dengan adanya laporan adanya guguran lava pijar, pihaknya sudah melakukan antisipasi terkait kenaikan status Gunung Merapi.

Seperti dengan pembagian lokasi pengungsian antarpadukuhan. Di Barak Pengungsian Banjarsari, akan digunakan untuk warga Kalitengah Lor, sedangkan kompleks Barak Gayam untuk warga Kalitengah Kidul dan Barak Koripan untuk warga Srunen. “Untuk Kompleks Barak Banjarsari (Barak, SD Muhammadiyah Cepit, dan Panti Asuhan) sendiri bisa menampung sekitar 500 orang,” lanjutnya.

Untuk ternak, kata Suparmono, masih ada yang berada di Kalitengah Lor. Saat ini hanya 166 ekor sapi yang sudah dievakuasi ke Kandang Singlar maupun kandang darurat di dekat Barak Banjarsari. Sebelumnya tercatat ada 218 ekor sapi milik warga di Kalitengah Lor tersisa dari total awal 294 ekor. “Saat ini yang di shelter 166 ekor, lainnya masih di padukuhan,” ungkap Suparmono.

Sementara itu, Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Pujiati menuturkan, pihaknya masih terus memantau pergerakan satwa Gunung Merapi setelah adanya lava pijar. Dengan menerjunkan petugas di lapangan memantau secara intens.

Meskipun demikian, hingga Selasa (5/1) pagi belum ada laporan yang masuk terkait adanya pergerakan satwa. Biasanya, kata Puji, ketika ada kenaikan status Merapi, satwa yang turun di antaranya kijang dan lutung. “Namun belum ada laporan teman-teman dari lapangan,” tuturnya.

Berkaitan dengan perumput, Pujiati mengaku hingga saat ini masih menemukan ada beberapa perumput yang melakukan aktivitas mencari rumput di sekitar radius bahaya. Meskipun tidak banyak, TNGM selalu mengingatkan kepada perumput agar lebih waspada terhadap aktivitas Merapi. “Untuk di wilayah Cangkringan, ada mobil patroli kami yang standby untuk bantu peternak angkut rumput dikirim ke Huntap Karangkendal, Umbulharjo,” ungkapnya. (kur/eno/laz)

Jogja Raya