RADAR JOGJA – Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji memastikan keputusan pembelajaran tatap muka tetap evaluatif. Apabila angka kasus masih tinggi maka sistem pembelajaran masih mengutamakan jarak jauh atau daring. Pertimbangan utama adalah keselamatan dan kesehatan pelajar adalah prioritas utama.

Jogjakarta, lanjutnya, mengacu pada Surat Edaran Nomor 12/SE/XII/2020 berbunyi pembelajaran (tatap muka) dimulai paling cepat awal Februari. Pembelajaran tatap muka akan diawali di tingkat perguruan tinggi. Apabila tak muncul kasus atau klaster Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), maka dapat berlanjut ke jenjang pendidikan dibawahnya. Tapi kalau melihat situasi ini, kami belum rekomendasi untuk anak-anak,” jelasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan, Senin (4/1).

Terkait perguruan tinggi, Aji mengatakan tetap mengacu pada kondisi perwilayah. Terutama sebaran kasus Covid-19 dalam periode waktu tertentu. Perhatian utama adalah wilayah yang masih berstatus zona merah Covid-19.

“Terkait keputusan perguruan tinggi mana yang tatap muka silakan ditentukan. Tapi tetap kami evaluasi, kalau tidak ada masalah bisa lanjut. Tentunya tetap Disdikpora yang menentukan ya atau tidak,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Didik Wardoyo menuturkan skema pembelajaran tatap muka tidak sepenuhnya berjalan baku. Tetap ada skema pembelajaran daring. Khususnya bagi wilayah dengan angka kasus Covid-19 tinggi.

Kedua skema ini diterapkan sebagai kombinasi. Pembelajaran tatap muka, lanjutnya, bersifat melengkapi daring. Fungsinya untuk melakukan konsultasi atas materi pembelajaran yang belum dipahami.

“Tatap muka itu tidak meniadakan jarak jauh karena sistemnya blended learning. Tatap muka sifatnya konsultasi dan terbatas bisa seperti itu. Untuk penerapan kami pilih yang tidak zona merah,” ujarnya.

Didik Wardoyo menambahkan,pihaknya tetap berkomunikasi dengan para orangtua siswa. Apabila keberatan, tidak  menutup kemungkinan skema utama bertahan dengan daring. Pertimbangan utama adalah keselamatan dan kesehatan peserta didik.

“Ijin orangtua tentu sudah minta, apakah tatap muka atau tidak. Kalaupun orangtua khawatir dan minta belajar di rumah, tetap kami layani,” tambahnya.

Pihaknya juga masih menginventarisir jumlah perguruan tinggi yang akan melakukan pembelajaran tatap muka. Tercatat saat ini baru satu universitas yang menyatakan perkuliahan tatap muka. Tepatnya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pembelajaran tatap muka sekolah mengacu sepenuhnya perkuliahan. Setidaknya cara ini diyakini mampu menekan munculnya sebaran Covid-19. Dalam tahapan ini turut melibatkan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 kabupaten/kota maupun provinsi.

“Walaupun begitu ditingkat sekolah tetap verifikasi lagi untuk kesiapan. Kalau memang perkuliahan efektif maka bisa lanjut jenjang pendidikan dibawahnya,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya