RADAR JOGJA – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja telah menyusun beberapa kajian dalam rangka pengembangan Koridor Jogja Selatan (KJS). Ini ditujukan agar dapat mengurangi disparitas antarwilayah dan juga untuk membangkitkan ekonomi di wilayah selatan.

Kepala Bappeda Kota Jogja Agus Tri Haryono mengatakan, KJS yang akan dikembangkan nantinya akan menghubungkan aset-aset potensial sebagai titik kebangkitan ekonomi. Antara lain, Taman Budaya Embung Giwangan, Pasar Ikan Higienis, Balai Benih Ikan, UPT Logam, Rumah Potong Hewan, Pasar Induk Giwangan, Terminal Giwangan, Taman Keselamatan Lalu Lintas, Kebun Plasma Nutfah dan Pisang, Gajah Wong Educational Park, XT Square, Kotagede, Warungboto, Gembiraloka, Pasar Prawirotaman, dan Pusat Aneka Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY).

“Taman Budaya Embung Giwangan di Jalan Tegal Turi nanti menjadi titik kebangkitan utama dalam Koridor Jogja selatan,” kata Agus kepada Radar Jogja Minggu (3/1). Ia menjelaskan saat ini telah terjadi disparitas wilayah antara bagian utara dengan bagian selatan Kota Jogja. Hal ini dapat terlihat dari aktivitas perekonomian yang cenderung lebih ramai dan berkembang di bagian utara.

Salah satu penyelesaian permasalahan disparitas wilayah dapat dilakukan menggunakan dua instrumen, yaitu kawasan strategis dan aset daerah. Berdasarkan tinjauannya, terdapat beberapa kawasan strategis yang telah ditetapkan di Kota Jogja ini. Penetapan kawasan strategis itu berdasarkan pendekatan pertumbuhan ekonomi, fungsi perlindungan dan daya dukung lingkungan hidup, serta pemanfaatan citra kota (sosial budaya).

“Secara tidak langsung penetapan kawasan strategis yang berada di dalam lingkup spasial kota ini akan turut mempengaruhi perkembangan dari wilayah di sekitarnya,” ujar Agus.

Maka dengan ditetapkannya kawasan strategis terpilih itu dapat diantisipasi pula potensi pengembangan kerja sama antardaerah terkait konektivitas antarkawasan lintas batas administrasi, baik geografis maupun fungsi, sehingga perencanaan pembangunan di tingkat regional akan lebih terpadu dan sinergis. Salah satu wilayah yang berpotensi bisa dikembangkan adalah Kecamatan Umbulharjo berdasarkan analisis kuantitatif.

Wilayah Umbulharjo mempunyai tingkat ketimpangan yang relatif tinggi, namun juga mempunyai potensi pelayanan pariwisata dan pengembangan pendidikan yang tinggi pula. “Berdasarkan analisis kami terhadap sebaran aset, analisis potensi dan masalah, maka koridor Jalan Tegalturi-Sorogenen kami pilih sebagai kawasan strategis. Karena mempunyai potensi pengembangan yang tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan kawasan strategis terpilih menekankan kepada aspek keterpaduan. Ini mengingat banyaknya aset potensial di sekitar kawasan strategis terpilih koridor Jalan Tegalturi-Sorogenen, yaitu Pasar Ikan Higienis, Poliklinik Hewan, Balai Benih Ikan, UPT Logam, Rumah Potong Hewan, Pasar Induk Giwangan, Taman Keselamatan Lalu Lintas, serta Kebun Plasma Nutfah dan Pisang. “Keseluruhan delapan lokasi potensial itu mempunyai garis besar potensi pengembangan pariwisata pendidikan,” terangnya.

Oleh sebab itu, pengembangan KJS ini harus mempertimbangkan banyak hal. Antara lain, integrasi kekuatan elemen pariwisata sisi selatan. Ini bisa dilakukan dengan mapping kekuatan produk dari masing-masing elemen pariwisata yang akan dihubungkan. Memanfaatkan transportasi unik sebagai bagian dari kekuatan budaya Jogja seperti sepeda, andong, dan becak. Maupun me-rebranding ulang kekuatan elemen destinasi pariwisata yang sudah ada dan melihat potensi yang ada untuk diintegrasikan ke dalamnya.

“Juga harus ada regulasi yang jelas. Seperti kantong-kantong parkir bus di pusat kota akan menjadi polemik yang menyebabkan kemacetan karena bangkitan transportasinya tinggi. Nah, ini harus ada kantong parkir juga di luar kota dengan destinasi wisata yang terintegrasi. Tapi juga perlu regulasi khusus untuk penggunaan transportasi unik yang akan melayani koridor,” jelas Agus.

Selain itu, juga menentukan target market. Apakah keseharian seperti masyarakat atau wisatawan lokal dan long weekend bersifat insidental. Juga mapping perilaku wisata sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 diperlukan. “Serta harus ada kemasan paket wisata yang bisa dijual dan saling menguatkan serta mengedepankan kebudayaan sebagai kekuatan pariwisata Jogja,” tandasnya.

Salah satu implementasi pengembangan pembangunan KJS adalah Taman Budaya Embung Giwangan, terletak di Jalan Tegal Turi yang memiliki konsep pengembangan dengan menyediakan sarana prasarana dan ruang apresiasi seni dan budaya bagi masyarakat. Maupun mengenalkan, menampilkan, dan melestarikan adat istiadat, tradisi dan budaya dengan nuansa yang modern.

Konsep ini nantinya akan diwadahi dalam tiga gedung utama, yaitu  Grha Budaya, Grha Abirama dan Grha Bareksa. “Pembangunan Taman Budaya Embung Giwangan ini sudah dimulai sejak tahun 2019 dengan dibangunnya Embung Giwangan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak dengan anggaran Rp 3,.5 miliar,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman ini menyebut, pada tahun 2020 dengan menggunakan anggaran dana alokasi khusus (DAK) Kementerian Pariwisata sebesar Rp 3,85 miliar juga telah dibangun tempat ibadah (musala), lampu taman, jalan setapak dan ruang ganti atau toilet.

Dilanjutkan dengan menggunakan anggaran APBD Kota Jogja pada tahun 2020 telah dibangun talud dan pagar keliling embung. “Untuk penyempurnaan ke depannya, melalui DAK tahun 2021 telah diusulkan anggaran Rp 2,84 miliar untuk pembangunan kios cinderamata, bangunan atau rumah sampah, serta tempat ibadah atau masjid,”  ungkapnya.

Pentahapan pada 2022 melalui dana keistimewaan (danais) juga telah diusulkan anggaran Rp 353 miliar untuk pembuatan beberapa paket bangunan, antara lain, bangunan entrance, bangunan Grha Budaya, Grha Bareksa, Grha Abirama, bangunan kampung ekraf, taman air, parkir, maupun bangunan landscape kawasan dan lain-lain. “Dengan terwujudnya pengembangan Koridor Jogja Selatan, harapannya program pengembangan ekonomi dan penyediaan sumber daya bagi masyarakat dapat tercapai,” harapnya. (wia/laz)

Jogja Raya