RADAR JOGJA – Kasus positif Covid-19 semakin bertambah setiap harinya. Lonjakan kasus yang ada karena masyarakat yang sudah mulai abai dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) dan masifnya interkasi sosial yang ada.

Epidemiolog Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Riris Andono Ahmad menjelaskan, penambahan kasus Covid-19 di Indonesia masih pada gelombang pertama yang belum usai. Jika ingin menghentikan persebarannya, pemerintah harus tegas menghentikan aktivitas sebagian masyarakat.

Dikatakan, tidak harus menerapkan sistem lockdown, masyarakat hanya perlu membatasi aktivitas dan melakukannya di rumah. Seperti masa awal pandemi, masyarakat bisa bekerja, sekolah, dan beribadah di rumah. “Ada mobilitas yang dibatasi dan hanya sektor penting seperti fasilitas kesehatan bisa tetap dijalankan,” ungkap laki-laki yang kerap disapa Doni ini Minggu (1/1).

Banyaknya fasilitas kesehatan yang sudah mulai penuh untuk penanganan Covid-19, menunjukkan ketidakseriusan dalam mengendalikan transmisi. Jika rumah sakit dinilai sebagai benteng pertahanan terakhir, akan sia-sia jika kekuatan benteng seperti adanya tempat tidur critical dan non critical mulai penuh.

Ditambah dengan tenaga kesehatan yang akan kelelahan secara fisik dan mental dan menyebabkan sakit bahkan meninggal, juga akan membuat benteng pertahanan runtuh. “Jika faskes tidak bisa menampung pasien dan tidak ada tenaga yang merawat, penularan semakin tidak terkendali. Angka kematian tinggi dan bisa menyebabkan ekonomi collapse,” tambahnya.

Liburan lalu, kata Doni, di Jogjakarta perputaran uang disebutkan mencapai Rp 14 miliar. Namun pemerintah harus melihat apakah angka tersebut sebanding dengan biaya perawatan dan penanggulangan Covid-19 yang telah diekeluarkan oleh pemerintah mendatang.

Saat ini transmisi persebaran Covid-19 yang masih sangat tinggi, Doni berharap pemerintah memikirkan kembali untuk dibukanya pembelajaran tatap muka. Menurutnya, pembelajaran sebaiknya masih dilakukan secara online. Mengingat masih ada orang tua yang setuju dan tidak setuju dengan adanya pembelajaran tatap muka.

Jika tetap dilakukan, dikhawatirkan akan ada klaster baru Covid-19 di sekolah. “Pertanyaannya, siap atau tidak nantinya keluarga menerima konsekuensi jika orang terdekat sudah terkena Covid-19? Banyak terjadi masyarakat percaya akan adanya Covid-19 saat orang terdekat sudah terpapar,” jelas Doni.

Sebelumnya, Kepala Disdik Sleman Ery Widaryana mengaku pihaknya siap melaksanakan pembelajaran secara tatap muka pada 2021. Meskipu demikian, Disdik tetap masih menunggu kebijakan dari pemerintah setempat. Mengingat pandemi Covid-19 di Sleman masih memiliki kasus positif yang cenderung naik. Jika benar-benar dilaksanakan, kemungkinan akan dimulai pada Februari atau bulan setelahnya. “Seandainya kebijakan sudah diluncurkan untuk tatap muka, kami semuanya sudah siap,” katanya.

Dalam persiapannya, Ery mengaku sudah mengimbau ke sekolah sejak dua bulan lalu untuk mempersiapkan diri dalam pemenuhan protokol kesehatan secara ketat. Mengatur alur-alur pembelajaran tatap muka di masa pandemi, termasuk bagaimana pengaturan tempat duduk atau simulasi pembelajaran.
Syarat kesehatan serta surat pernyataan permohonan persetujuan dari orang tua terkait pembelajaran tatap muka. “Itu semua sudah dilakukan dalam rangka persiapan,” jelas Ery.

Kepala Sekolah SMPN 4 Depok Lilik Mardiningsih mengaku, sembari menunggu keputusan pemerintah terkait pembelajaran tatap muka, pihaknya juga telah memberikan angket kepada seluruh orang tua terkait diperbolehkannya siswa mengikuti pembelajaran luring. Diperbolehkannya siswa mengikuti luring, didapatkan dari orang tua kelas IX yang mencapai 60-70 persen.

Sedangkan orang tua dari kelas VII dan VIII tidak mencapai 50 persen orang tua yang mengizinkan anaknya untuk pembelajaran tatap muka. Dari angka itu, Lilik mengaku akan siap memfasilitasi peserta didik untuk pembelajaran daring maupun luring. “Meskipun misalnya nanti yang tidak setuju hanya satu siswa, maka akan tetap kami fasilitasi untuk daring,” kata Lilik. (eno/laz)

Jogja Raya