RADAR JOGJA – Tidak ada penutupan penuh pada malam pergantian tahun di kawasan Tugu Pal Putih, Malioboro, dan Titik Nol Kilometer. Pemkot Jogja lebih mengutamakan skema buka tutup secara situasional atau menyesuaikan kondisi di lapangan.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, khusus malam nanti meniadakan penerapan pedestrian pukul 18.00-21.00 di kawasan Malioboro yang telah diterapkan sejak libur Natal lalu. Akses lalu lintas diterapkan dengan sistem buka tutup secara situasional.

“Jadi kalau kita mengacu pada PSBB, P-nya kan pembatasan. Jadi bukan penutupan, jangan gampang membuat istilah tutup menutup,” kata HS di sela konferensi pers di Hotel Ibis Malioboro, Jogja, Rabu (30/12).

Pembatasan dilakukan dengan buka tutup untuk lalu lintas kendaraan. Terutama pukul 18.21 larangan kendaraan masuk ke Malioboro ditiadakan untuk malam ini. “Kita ganti dengan buka tutup situasional. Supaya bisa terbelah, jangan ngumpul di sana,” ujarnya.

HS menjelaskan upaya ini untuk mencegah potensi timbulnya kerumunan orang secara masif ketika tidak ada kendaraan melintas. Sehingga pihaknya membuka akses untuk kendaraan bermotor bisa masuk di kawasan Malioboro. “Nek kebak tak tutup, nek longgar tak bukak (Kalau penuh yang ditutup. Kalau longgar dibuka, Red,” jelasnya.

Wali kota sendiri mengimbau untuk menghindari Malioboro karena potensi macetnya sangat besar. Dikatakan, pada hakikatnya meski tidak melakukan penutupan tetapi melakukan pembatasan-pembatasan tertentu. Namun pemkot tetap melakukan penjagaan sangat ketat.

Hal ini agar prokes 4M bisa dilaksanakan masyarakat dengan baik. Terutama yang paling dasar adalah M ke-4, menghindari kerumunan. Sebab, ketika kerumunan terjadi potensi memakai masker tidak dijalankan, terlebih menjaga jaraknya.

“Paramater kerumunan aspek rasio 100 orang kumpul itu sudah kerumunan. Sepuluh orang kumpul jarak 10 meter saja sudah ramai. Berbeda kalau 10 orang kumpul di jarak 100 meter, ya bukan (kerumunan),” jelasnya.

Adapun penguatan untuk mencegah aspek kerumunan ini juga dilakukan dengan pemasangan pagar-pagar besi di pedestrian Titik Nol Km. Sebab, wilayah itu sering kali muncul potensi kerumunan. Di sisi timur pagar dipasang memanjang tepatnya depan Monumen SO 1 Maret hingga sepanjang pedestrian depan pintu masuk Museum Benteng Vredeburg.

Sementara di sisi barat, sepanjang kawasan depan Gedung Agung, dan hanya menyisakan pintu masuk Istana Presiden di Jogja itu. Pagar besi juga dipasang melingkar di Tugu Pal Putih. “Ini supaya arusnya terjaga, dan area dalam pagar itu pasti disterilkan,” terangnya.

Dikatakan, pada dasarnyaJogja merupakan kota pariwisata. Pemkot mempersilakan wisatawan datang ke Jogja namun dengan menunjukkan identitas kesehatan. “Tidak ada ancaman di Jogja datang dikarantina. Tidak ada, Jogja tidak tertutup, kita terbuka. Nginep di Jogja, tapi hotel punya protokol tolong ditaati,” katanya.

Terkait pesta kembang api pada malam pergantian tahun, pemkot tidak pernah mengeluarkan izin untuk mengadakan pesta kembang api. “Kembang api nyalakan, tapi jangan bikin kerumunan. Kalau ada bikin pesta kembang api dan bikin kerumunan, pasti kami bubarkan,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Satpol PP Kota Jogja Agus Winarto mengatakan, semua kekuatan yang ada termasuk yang off akan disiagakan bertugas membantu penjagaan nanti malam. Ada sekitar 354 personel yang disiagakan. Dalam satu regu terdapat 10 personel. “Nanti kami bagi, konsentrasikan di Tugu dan Malioboro. Juga ada dua regu yang khusus mobile,” katanya.

Kekuatan lain juga disiagakan BKO untuk mengampu di tingkat wilayah masing-masing. Penempatan posisi personel dari siang disiagakan hingga pagi. Personel dibekali pengeras suara untuk menghimbau dan edukasi atau sosialisasi agar tidak berkerumun. (wia/laz)

Jogja Raya