RADAR JOGJA – Di penghujung 2020 ini, rumah Basir, 50, di sudut jembatan Selokan Mataram, Dusun Glondong, Tirtomartani, Kalasan, tak seperti biasanya yang selalu penuh dengan terompet. Ya, diterjang pandemi Covid-19, perajin trompet ini banting setir. Mulai jualan bakso bakar hingga ubi madu.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Radar Jogja, Sleman

Dia harus menelan pil pahit. Nyaris kehilangan pelanggan. Terompet semakin ditinggalkan seketika perayaan malam pergantian tahun baru tiba. Tak ada kertas duplek dan serutan peluit menumpuk di rumahnya. Tak tampak pula kertas dimensi, material pembuatan terompet. Yang ada gerobak motor terparkir di teras rumah yang sempit. Gerobak itu lengkap dengan tusukan, bakso, sosis dan tahu.

Sekitar pukul 13.00, Basir baru saja tiba dari menjajakan bakso bakar keliling. Keliling di sekitaran Kalurahan Tirtomartani, dalam keadaan hujan. Radar Jogja menyambangi rumahnya Rabu (30/12). Rumah yang sempit ditempati Basir dan istrinya. Juga usaha barunya, jualan ubi madu.

Pagi sekitar pukul 09.00 dia mulai keliling jualan. Pukul 12.00 pulang, makan siang, istirahat sejenak, lalu lanjut menyiapkan bakso yang hendak dijual lagi pukul 15.00. Malamnya jika memungkinkan jualan ubi open, per kilogram Rp 12 ribu. Itulah rutinitasnya.

“Tak lagi sibuk buat terompet. Tahun ini sepi pemesan,” ungkap Basri. Pria paruh baya ini mengatakan, permintaan terompet kali ini hanya 500 buah lengkap dengan topinya. Jika dibandingkan tahun lalu, sangat jauh. Yakni mencapai dua ribu terompet, lengkap dengan topinya. Berarti kali ini hanya seperempatnya saja.

Permintaan terompet yang di-cancel sekitar 750 buah. Permintaan hanya dari satu dua orang pelanggannya saja. Itu pun yang masih optimistis meraih pundi-pundi melalui jualan ini. Menawarkan teropet kepada pengunjung hotel. Pedagang kaki lima tak ada yang memesan.

Itulah mengapa akhir-akhir ini dia makin sibuk berjualan bakso bakar dan ubi madu. Dia menjelaskan, dari jumlah pesanan itu tersisa sekitar 20 terompet saja. Dibiarkan tergantung di dalam rumahnya.

Tak ada lagi terompet kupu, terompet naga dan aneka terompet lain yang unik. Yang ada hanya terompet biasa berbentuk kerucut. Jika dibeli grosir, harga per terompet Rp 3 ribu. Di beli bijian harganya Rp 5 ribu. “Dari tahun ke tahun harganya sama,” ujarnya.

Sepinya permintaan terompet dipengaruhi tiga hal. Faktor utama, akibat Covid-19. Persebaran virus korona melalui droplet menyebabkan orang enggan membeli terompet. Mereka waswas dan takut tertular virus asal Wuhan, Tiongkok, itu.

Yang kedua, tren perayaan malam tahun baru dengan meniup terompet mulai ditinggalkan. Ada banyak cara merayakan tahun baru, tidak harus meniup terompet.

Ketiga, isu droplet yang sempat berhembus pada 2017 lalu, sehingga adanya imbauan tidak meniup terompet. Juga adanya temuan terompet yang dibungkus sampul Alquran beberapa waktu lalu. Sehingga terjadilah razia terompet hingga berdampak pada penjualan terompet.

Basir sendiri berasal dari Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Dia bukanlah perajin trompet satu-satunya. Di sebelah barat rumahnya berderet tujuh keluarga perajin trompet. Kendati begitu, tahun ini hanya dia yang masih menerima pesanan.

Basir membeberkan, pesanan selama pandemi ini bahan bakunya sedikit sulit. Sebab, tempat biasa dia membeli bahan baku hanya menyediakan stok lawas.
Sebelumnya, Basir sudah berjualan terompet sejak 1990. Usaha terompet kala itu menjanjikan, bahkan dia berkeliling wilayah menjajakan mainan ini.

Diceritakan, masa kejayaan usaha terompet terjadi pada 2010. Tahun 2011 jualan makin ramai, inovasi rakitan bentuk terompet pun makin beragam. Dari ukuran kecil hingga jumbo. Sejak adanya isu droplet itulah, 2017 peminatnya mulai turun. Tahun 2018 menyusut, 2019 makin susut, dan 2020 ini makin hilang. “Dulu pas jaya pesanan sampai puluhan ribu. Kini hanya ratusan saja,” katanya.

Namun, Basir tak patah arang. Dia terus bergerak merintis usaha lain. Jualan tiwul dia lakoni. Jualan bakso bakar juga ia lakukan, berikutnya ubi cilembu ini. “Berapa pun hasilnya, yang penting halal,” ucapnya penuh syukur. (laz)

Jogja Raya