RADAR JOGJA – Pemkot Jogja memilih tidak melakukan rekomendasi lockdown atau mengunci akses keluar masuk saat malam pergantian tahun di Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kilometer. Tetapi lebih mengutamakan prinsip penjagaan di jam-jam tertentu.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, sejatinya rekomendasi legislatif terkait lockdown per 31 Desember pukul 18.00 sampai 1 Januari pukul 06.00 itu diakui memang untuk menghindarkan kerumunan yang sangat masif di tengah perayaan malam pergantian tahun. “Nek ora dibatesi engko makbyuk kabeh (Kalau tidak dibatasi nanti semua tumpah ruah, Red). Ya kami kaji pembatasan seperti itu,” katanya di Graha Pandawa, Kompleks Balai Kota Timoho, Selasa (29/12).

Tapi yang paling penting, lanjut HS, tim satgas harus siap memonitor. Pembatasan yang dipilih yakni penjagaan ketat terhadap kawasan-kawasan yang berpotensi timbul kerumunan. Tidak sekadar kawasan utama Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kilometer semata, melainkan titik-titik lain yang berpotensi muncul kerumunan.

“Pembatasan itu kan pukul 18.00 sampai 06.00 dibatasi. Jangankan jam enam, kalau dari jam lima sore dan jam tujuh pagi masih ada kerumunan, ya tetap kita cegah. Penjagaan itu yang lebih penting dan hakiki dari pembatasan,” jelas Haryadi.

Hakikatnya, lanjut dia, kawasan-kawasan berpotensi kerumunan itu menjadi kawasan yang terjaga. Mengenai pengaturan waktu, hanya persoalan upaya teknis bentuk rekayasa agar orang tidak masuk ke area tersebut. “Hindari kerumunan, jangan di Malioboro dan Tugu, itu yang kami jaga. Kita lihat buka tutup kita monitor, itu lebih baik,” terangnya.

Dikatakan, dibatasi tapi tidak dijaga atau dijaga dengan pembatasan tertentu. “Saya lebih memilih tetap berkompromi dengan keadaan, menjaga dengan sesuai di jamnya,” tambahnya.

Terpisah, Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengatakan, persiapan juga sudah dilakukan untuk mengantisipasi adanya kerumunan di pusat kota Jogja itu. Selain menyiapkan terkait sarana dan prasarana seperti cek suhu, pembaharuan gate, signing kursi pedestrian, pembaharuan wastafel-wastafel, dan penggantian lampu yang mati.

Selain itu juga mematangkan kesiapan sumber daya manusianya. “Kami siap dengan pasukan pengurai kerumunan. Berbagai pihak sudah siap membantu dari Tugu hingga Titik Nol,” kata Ekwanto. (wia/laz)

Jogja Raya