RADAR JOGJA – Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) membuat kasus positif Covid-19 di DIJ kembali meningkat. Dalam kurun waktu Jumat (25/12) dan Sabtu (26/12) lalu saja, kasus korona di provinsi ini menembus angka tertinggi.

Jumat kasus Covid-19 mencapai 256 kasus, yang sempat menjadi rekor tertinggi kasus positif di DIJ selama ini. Berselang sehari, pecah rekor lagi yakni 274 kasus. Minggu (27/12), kasus positif harian mengalami penurunan, namun masih di level yang cukup mengkhawatirkan.

Total ada 183 kasus positif Covid-19. Dengan angka-angka yang mengkhawatirkan itu, DPRD DIJ menyarankan Pemprov DIJ untuk mempertimbangkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).  Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana.

“Kami mengusulkan kepada gubernur perlunya PSBB,” katanya Minggu (27/12). Huda menjelaskan, situasi Covid-19 secara nasional maupun di DIJ sangat mengkhawatirkan. PSBB perlu dilakukan dengan menutup tempat-tempat yang menjadi lokasi berkumpulnya orang. Pembatasan pergerakan manusia juga perlu dipertimbangkan.

Dikatakan, kondisi rumah sakit di DIJ memang masih memadai sementara ini untuk menampung pasien positif Covid-19. Namun sumber daya manusia, terutama tenaga kesehatan (nakes) yang ada kian mengkhawatirkan. “Ketersediaan SDM itu juga perlu dipikirkan,” lanjut politisi PKS ini.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajun Setyaningastutie mengaku telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi lonjakan kasus Covid-19. Sejumlah strategi yang telah disiapkan meliputi fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat pelindung diri (APD) dan penambahan tempat tidur Covid-19 di ICU dan ruang isolasi.

Kemudian penambahan jumlah ventilator dan HFNC juga dilakukan di beberapa rumah sakit rujukan Covid-19. Penambahan tenaga telah disiapkan melalui rekrutmen relawan perawat kesehatan. Dia juga memastikan ketersediaan obat, alat kesehatan sudah terpenuhi sampai Maret 2021.

Termasuk kesiapan APD bagi tenaga kesehatan yang melayani pasien. “Untuk fasilitas isolasi mandiri, kami mendorong Gugus Tugas kabupaten dan kota untuk menambah kapasitas tempat isolasi. Mendorong masyarakat dan berbagai mitra, memfasilitasi isolasi mandiri keluarga,” jelas Pembajun.

Sebelumnya Pansus Pengawasan Covid-19 DPRD Kota Jogja juga sudah merekomendasikan ke Pemkot Jogja untuk memberlakukan lockdown total di kawasan Tugu, Malioboro dan Keraton (Gumaton) pada malam tahun baru nanti. Dengan menerapkan jam malam. Mulai Kamis (31/12) pukul 18.00 hingga Jumat (1/1) pukul 06.00.

Ketua Pansus Pengawasan Covid-19 DPRD Kota Jogja Antonius Fokki Ardiyanto juga menyebut, pemberlakuan lockdown total di kawasan Gumaton melihat persebaran kasus positif Covid-19 di Kota Jogja yang belum terkendali. Dia khawatir jika dibiarkan, meski sudah ada aturan rapid dan swan antigen bagi wisatawan, kerumunan akan membuat kasus bertambah. “Karena pengawasan yang masih kurang, sekarang tiap malam saja ramai tapi jarang ada petugas patroli,” katanya.

Fokki juga menyebut aturan dalam InGub DIJ maupun SE Wali Kota, ditambah Maklumat Kapolri sudah bisa dipakai untuk menerapkan lockdown di kawasan Gumaton. Apalagi, lanjut dia, sudah tidak diperbolehkan acara apa pun di sana. “Konser, pesta kembang api jelas dilarang, sekalian saja ditutup kawasannya,” kata dia. (kur/laz)

Jogja Raya