RADAR JOGJA – Jika harus mengingat kembali tahun berapa dilahirkan, sulit rasanya. Tapi ia mengklaim usianya sekitar 90 tahun. Begitulah Marsudiyono yang masih sibuk berkarya di usia senjanya. Di balik itu, dia menyimpan kisah kegaduhan saat zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Seperti apa kisahnya?

MEITIKA CANDRA L, Radar Jogja, Sleman

Sebelum ayam berkokok, Marsudiyono muda sudah bersiap diri untuk bekerja. Sekitar pukul 03.00 pagi. Dia berangkat dari Dusun Ngampon menuju Sedayu, Bantul. Ya, dia hendak mengambil gamping di Sedayu, yang kemudian ia jual lagi ke Kulonprogo.

Dengan langkah penuh semangat dia memikul dua bakul menggunakan sebilah bambu. Perjalanan memakan waktu sekitar enam jam. Melewati wilayah Gamping, lalu menuju Pirak, kebon tebu di selatan Godean.
“Saat itu zaman Belanda. Orang pergi ke mana-mana berjalan kaki,” ungkap Marsudiyono di sela kesibukannya membuat gazebo di Desa Wisata Gunung Ngampon.

Di sepanjang jalan, dia menjumpai tentara-tentara Belanda memegang senjata. Saat itu tak ada rasa ketakutan. Niatnya hanya untuk berdagang. Begitulah kesehariannya hingga dia tiba di Kulonprogo. Menjajakan gamping untuk bahan bangunan. Lalu kembali ke rumah. Perjalanan hampir sehari semalam. Tiba di Ngampon pukul 02.00 pagi. “Tidur satu jam di rumah, lalu bangun lagi, jualan lagi. Jika capek istirahat atau tidur sebentar di jalan,” bebernya.

Pola ini selalu dia lakukan hingga suatu ketika terjadi kegaduhan, perang pejuang kita melawan Belanda. Tepatnya di Jalan Wates-Jogja. Langkahnya seketika berhenti. Dia bersembunyi di Pirak. Perang berlangsung hampir setengah hari. Tak menyurutkan niatnya, Marsudi melanjutkan langkahnya membeli gamping ke Sedayu.

Memasuki era penjajahan Jepang, keadaan semakin sulit. Setiap jalan dijaga ketat orang Jepang. Dia pun memilih jalur lain agar selamat dari pengasingan, baik tentara Belanda maupun Jepang. “Saya muter playune Ngluwar, Pasar Trayem, sak wetan Mbudur (memutar ke arah Ngluwar, Pasar Trayem, Magelang, timur Borobudur, Red),” katanya.

Disebutkan, saat itu kondisi selatan sedang keadaan gawat. Belanda dan Jepang bertempur hebat. Penduduk pribumi banyak yang diculik, diasingkan, bahkan dibunuh. Di sepanjang jalan ditanam semacam bus beton di kubangan layaknya sumur. Kubangan itu diberi lubang-lubang kecil untuk mengintip dan menembakkan senjata perang. “Itu strategi perang Jepang melawan tentara Belanda,” katanya.

Bahkan suatu ketika Marsudi dikepung tentara Belanda. Pulang berjualan hendak buang air kecil ke semak-semak. Tiba-tiba dia dikepung dan hendak dibawa. Beruntung salah satu personel mengetahui dirinya hanyalah penjual gamping. “Saya dibebaskan dan berterimakasih pada mereka,” ujarnya.

Keadaan itu membuatnya libur berjualan dan beralih bertani di rumahnya. Di bawah kaki Gunung Ngampon, memasuki zaman penjajahan Jepang tahun 1942. Dusun Ngampon dipenuhi tentara Jepang beserta heiho (pasukan pembantu, tentara Indonesia yang dilatih Jepang). Mereka bersembunyi di Gunung Ngampon.

“Halaman saya itu dipenuhi truk-truk mengangkut kayu jati balokan, yang didatangkan dari Kota Jogja,” katanya. Kayu-kayu itu kemudian diangkat ke atas gunung. Bahkan ribuan heiho bergotongroyong membangun tempat persembunyian layaknya gua.

Lokasinya di kebun selisih 50 meter dari rumahnya. Ini lokasi pertama. Paling luas karena bermuatan hingga 200 orang. Bertingkat enam, seperti asrama militer. Namun lantainya dibuat agak miring. “Panggung paling atas muat empat orang untuk pemimpinnya,” jelasnya.

Lalu lokasi kedua berada di tengah. Menghadap ke arah timur. Lokasi ini lebih kecil. Ada enam tingkatan, muat 100 orang. Nah yang ketiga berada di pucuk. Ini lebih besar tampungannya sekitar 500 orang. Juga enam tingkat. Warga sekitar menyebutnya Gua Jepang.

Bangunan yang hendak digunakan untuk perang ini terbentuk 100 persen kayu jati. Lalu pintu masuknya seperti lorong galian tanah. Harus merunduk, bahkan tiarap ketika hendak masuk di gua itu.

Marsudi mengaku, dia berteman baik dengan tentara Jepang. Keluarganya kerap diberikan lauk. Kuah sop, sisa makanan heiho. Meski tentara Jepang dikenal bengis dan kejam. Namun tidak pada keluarga Marsudi.
Pada masa penjajahan Jepang ini dia sempat dilatih layaknya tentara militer. Saat itu banyak penduduk pribumi yang hendak ditarik heiho.

Namun sebelum Indonesia nerdeka pada 1945, tentara Jepang pergi begitu saja dari Gunung Ngampon. Bangunan yang telah selesai di bangun, seketika juga ditinggalkan. “Tentara Jepang oleh Sultan disuruh pergi,” terangnya.

Usai Indonesia merdeka, Gua Jepang itu sempat mangkrak. Menjadi tempat bermain anak-anak di Dusun Ngamplon. Namun saking ketakutannya warga sekitar atas bangunan itu, oleh pemuka desa yang akrap di panggil Pak Dongkol, bangunan itu dibongkar. Kayu-kayu jatinya dikembalikan ke Kota Jogja, sehingga yang tersisa saat ini hanya bekas galian tanah pondasi gua.

Menurutnya, zaman penjajahan Jepang itu pelik dan tragis. Masyarakat dibuat melarat. Jika alarm berbunyi, warga bergegas sembunyi. Lantas tentara-tentara itu mencuri hasil bumi atau kekayaan warga. Bukan dijadikan milik Jepang, melainkan dilarung atau dibuang ke laut.

Bahkan saat penjajahan Jepang, masyarakat kelaparan. Banyak warga yang terpaksa menggunakan bagor (karung) sebagai pakaian. Saat ini dia jauh bersyukur. Sebab apa yang dulu dirasakan sudah kebalikannya. “Jepang memang kejam. Tapi strategi perangnya bagus,” ungkapnya. (laz)

Jogja Raya