RADAR JOGJA – Polresta Jogjakarta  siap melakukan pengamanan akhir tahun, termasuk pada Natal dan malam tahun baru. Instansi tersebut siap menindak tegas kerumunan massa, khususnya pada malam tahun baru.

Wakapolresta Jogja AKBP Juang Andi Priyanto menegaskan tak boleh ada peringatan malam pergantian tahun. Kebijakan ini sebagai upaya menghindari munculnya kerumunan masyarakat dalam lokasi yang sama. Pertimbangannya adalah kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang masih berlangsung.

Langkah antisipasi telah dilakukan oleh jajarannya. Setidaknya ada penjagaan ekstra di sejumlah titik keramaian yang ikonik. Seperti kawasan Tugu Pal Putih hingga kawasan sepanjang Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.

“Nanti 31 Desember 2020 arus lalu lintas Malioboro terbuka untuk semua jenis kendaraan. Lalu arus lalin menuju Tugu Pal Putih tidak ditutup namun tidak boleh berhenti. Arus lalin menuju titik nol kilometer tetap seperti biasa tapi tidak boleh berhenti,” tegasnya ditemui di Mapolresta Jogja, Rabu (23/12).

Juang Andi menambahkan,terkait ibadah umat Nasrani, pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola gereja. Setidaknya hingga saat ini baru 2 gereja yang akan menyelenggarakan ibadah secara tatap muka. Walau begitu penjagaan tetap berlangsung di semua rumah peribadahan.

“Kebanyakan masih online ibadahnya. Tetap kami siagakan pengamanan. Untuk personel ada total 1.100 yang dikerahkan selama pengamanan libur Nataru,” tambahnya.

Kasatlantas Polresta Jogja AKP Imam Bukhori turut menjelaskan detil manajemen lalulintas selama libur Nataru. Pihaknya bersama Dinas Perhubungan Kota Jogja menyepakati tak ada penyekatan jalan. Kebijakan ini sebagai antisipasi munculnya kerumunan dari kemacetan arus lalulintas.

Penyusunan kebijakan ini berkaca pada manajemen lalulintas pergantian tahun sebelumnya. Penyekatan justru memunculkan titik-titik kemacetan. Tentunya kebijakan ini tak sejalan dengan protokol kesehatan Covid-19.

“Jadi kami sepakat tidak ada penyekatan maupun penutupan. Flashback pengalaman tahun lalu, di wilayah titik nol itu sama sekali tidak bisa gerak. Jangankan kendaraan, orang masuk sana pasti terjebak. Kalau kami tutup tentu akan muncul kerumunan besar,” ujarnya.

Kebijakan semi pedestrian Malioboro juga ditiadakan saat 31 Desember. Diketahui bahwa kawasan ini telah menjadi semi pedestrian. Kendaraan bermotor dilarang melintas ruas jalan Malioboro. Berlaku dari 18.00 hingga 21.00 setiap harinya.

Saat malam pergantian tahun, manajemen lalulintas di kawasan Malioboro berlaku normal. Termasuk tak ada penyekatan dan penutupan di sejumlah jalan sirip kawasan Malioboro. Harapannya agar tak ada kemacetan kendaraan.

“Nanti mengalir saja seperti biasa, tidak ada larangan melintas. Kami juga melarang kendaraan berhenti di sepanjang Malioboro agar tak ada kemacetan,” katanya.

Imam justru memberikan perhatian khusus kepada kendaraan tradisional, khususnya andong dan becak kayuh. Dia berharap kendaraan tradisional ini tak berada di kawasan Malioboro selama malam pergantian tahun. Agar tak ada hambatan bagi kendaraan bermotor untuk terus melaju.

“Tidak dipungkiri saat andong dan becak parkir itu sedikit memakan ruas jalan. Ini bisa menjadi penghambat kendaraan. Untuk pengaturan, kami sudah koordinasi dengan Dishub dan Satpol PP,” ujarnya.

Kebijakan lalulintas mengalir juga berlaku di kawasan Tugu Pal Putih. Pihaknya telah memasang spanduk khusus di kawasan simpangempat tersebut. Bertuliskan larangan berhenti di tengah-tengah titik simpangempat Tugu Pal Putih.

Imam menyadari Tugu adalah ikon Jogjakarta. Namun kondisi pandemi Covid-19 harus menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting. Dia tak ingin warga berkerumun hanya untuk berswafoto di simpangempat Tugu Pal Putih.

“Kalau kawasan Tugu Pal Putih sampai sekarang kan memang tidak boleh berhenti kendaraannya. Kalau berhenti hanya untuk foto-foto atau mungkin dari dalam mobil tetap menghambat arus lalulintas,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya