RADAR JOGJA – Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Sebuah peringatan nasional yang dicanangkan Presiden Soekarno untuk mengenang momentum kali pertama digelar Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada 22 Desember 1928. Dan wanita, memiliki peran besar dalam keluarga, khususnya ketika menjadi ibu.

Ibu usia subur lantas menjadi tonggak penting. Ketika pemerintah mencanangkan program pengendalian penduduk melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 1972. Lembaga itu bahkan menjadi lembaga pemerintah non-departemen yang berkedudukan langsung di bawah presiden.

“Saya dulu menjadi kader yang memberikan penyuluhan, terutama pada pasangan usia subur (PUS). Untuk dimotivasi, mau (mengikuti program, Red) keluarga berencana (KB),” sebut Sagiya saat ditemui di kediaman Dukuh 10 Kalirandu, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Selasa (22/12).

Sebelumnya, Sagiya bersama 24 rekannya tergabung dalam sebuah organisasi sosial kesehatan. Pria 65 tahun itu mengungkap, tercetusnya organisasi setelah ada salah seorang warga yang terkena hernia. Warga itu tidak bisa berobat, karena tidak punya biaya. Ini menjadi perhatian luas, bahkan sampai ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), organisasi Sagiya pun dibina. “Pada 1974 dibentuklah Promotor Kader Kesehatan Rakyat (Promokesra), anggotanya 25 orang. Dalam upaya memberikan penerangan atau penyuluhan terkait kesehatan, termasuk program KB,” jelasnya.

Sekitar seratusan wanita dari Padukuhan Kalirandu pun diminta menggunakan akseptor pada 1976. Mereka inilah wanita-wanita pertama di Indonesia yang menggunakan akseptor. Karena itu, padukuhan ini kerap mendapat kunjungan, bukan hanya menteri, tapi juga peneliti dari Kanada dan Jepang.

Kala itu Sagiya masih bujang. Menahan tawa, pria yang saat itu juga menjabat bendahara Promokesra mengaku kerap malu. Lantaran harus mempraktikkan penggunaan alat kontrasepsi. Beberapa jenis kontrasepsi yang dipromokannya adalah IUD, pil, dan kondom.

“Waktu itu kami memberikan penerangan pada sore atau malam hari. Wah, listrik waktu itu belum masuk. Kendala lain, juga ada masyarakat yang masih kolot, tapi cuma dua yang nggak mau KB. Anaknya 11 sama sembilan orang,” sebutnya kemudian tertawa.

Sebagai tetenger, kemudian dibangunlah Monumen Apsari di Padukuhan 10 Kalirandu. Akronim dari akseptor sapta lestari. Sebab padukuhan ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menggunakan akseptor. “Persemiannya dilakukan oleh Wakil Gubernur DIJ KGPAA Paku Alam VIII pada 13 Oktober 1986,” ucapnya.

Laporan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIJ menunjukkan adanya penurunan angka pengguna program keluarga berencana (KB). Pada tahun 2016 terdapat 431.813 peserta, tahun 2017 ada 391.811 peserta, 2018 sebanyak 381.029 peserta, turun lagi di 2019 menjadi 375.708 peserta. Sementara Badan Pusat Statistik DIJ mencatat, program KB digunakan oleh 374.289 peserta per 7 Agustus 2020. (fat/laz)

Jogja Raya