RADAR JOGJA – Studio yang terletak di Padukuhan Candirejo, Sardonoharjo, Ngaglik, itu memadukan sampah dengan seni. Tak hanya itu, Tactic juga mencoba mengedukasi masyarakat setempat dengan pilah dan kelola sampah.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

Studio Tactic sudah banyak mengubah plastik kresek yang sebelumnya tak bernilai menjadi produk dengan nilai jual tinggi. Dengan cara menjadikan plastik sebagai pengganti kain. Mengolah limbah itu dengan teknik dan alat yang sederhana. Menjadi sebuah totebag hingga pouch.

Dengan cara dipress terlebih dahulu menggunakan setrika. Paham sedang berbaur bersama masyarakat, Tactic mencoba menggunakan alat-alat yang biasa ada di rumah. Jika teknik pengolahan limbah menggunakan alat yang susah, dikhawatirkan akan menjauhkan kembali minat masyarakat terhadap limbah plastik. “Padahal niat kami mendekatkan kebiasaan ini dengan masyarakat,” kata salah satu pegiat Studio Tactic Lili Elserisa.

Sebelumnya, bahan baku plastik kresek yang digunakan untuk membuat produk berasal dari pilahan sampah yang dikumpulkan oleh tim Tactic. Membeli dari bank sampah dan program adopsi plastik yang anggotanya lebih dari 100 orang. Nantinya, plastik kresek akan dibuat beragam karya, baik karya instalasi maupun barang fungsional.

Studiti Tacti juga berbaur dengan kaum ibu, komunitas bank sampah dan komunitas-komunitas lain yang lebih besar dalam berkarya. Karena menghidupkan ekosistem seni, perlu saling membantu. “Kalau tidak seperti itu persoalan lingkungan tidak selesai-selesai, jadi harus barengan. Seandainya bisa, kami akan terus bergerak sampai tidak ada lagi plastik di dunia,” ujar Lili yang sudah bergabung sejak 2018.

Melalui workshop, pameran dan kegiatan-kegiatan bersama masyarakat, Studio Tactic berusaha mencoba mentransfer rasa, empati dan mengajak bersama-sama memikirkan hal apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah. Terlebih, tidak ada sampah plastik kresek yang ramah lingkungan. Kecuali plastik yang terbuat dari singkong, yang sudah populer beberapa waktu lalu. Namun, produk itu juga masih terus diteliti lebih lanjut.

Sementara itu, Ayu Arista Murti menyebutkan, dalam berkesenian dengan media sampah, teman-teman Studio Tactic berusaha transfer teknologi bersama masyarakat dalam mengolah dan mengelola sampah rumah tangga. Intinya, bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan benda sekitar. Yang tadinya dibakar dan dibuang, masih tetap bermanfaat. “Apalagi pandemi banyak belanja online dan sampah numpuk, padahal pengambilan sampah belum tentu teratur,” lanjut Ayu.

Sampah, khususnya plastik adalah bukan lagi masalah lokal. Namun masalah global. Ayu menyayangkan saat ini kebiasaan memilah sampah belum didukung dari hulu ke hilir. Misalnya saja dari rumah tangga, setiap penghuni sudah memilah sampahnya. Namun saat dikumpulkan oleh petugas, sampah tadi akhirnya dicampur kembali.

Dengan menjadikan sampah sebagai media seni, dijual bahkan menjadi instalasi pameran, maka kritik lingkungan yang dibangun oleh Studio Tactic bisa dilihat lebih banyak orang dari kalangan. “Bisa menimbulkan impact yang lebih besar. Jadi persoalan sampah ini tidak sekadar dilihat secara parsial,” tuturnya.

Bagi Ayu, yang paling mengena saat bergelut dengan sampah adalah ia menjadi lebih introspeksi pada diri sendiri. Bahwa segala sesuatu harus dimulai diri sendiri. “Kalau kita sendiri tidak berubah, bagaimana kita mau mengubah. Saya juga bukan manusia sempurna, saya juga masih pakai plastik, tapi setidaknya saya lambat laun malas buang sampah sembarangan, misalnya,” ungkap Ayu.

Sejak awal dibangun oleh Ayu dan rekannya bernama Mutia Bunga, Studio Tactic ingin membuat karya yang bermanfaat. Bisa digunakan, banyak ditemukan dan memberi arti lebih. Dimulainya Studio Tactic, berawal dari Ayu dan Bunga bermain ke TPA Piyungan. “Ngenesnya, baru turun dari kendaraan langsung dikerubungi lalat banyak banget, bahkan kami lihat sapi-sapi makan plastik,” jelas Ayu.

Sebagai seniman yang terbiasa mengolah berbagai media, mengelola media sampah tetap memberikan tantangan dan banyak cerita bagi seorang Ayu. Cerita-cerita yang ia dapatkan itulah yang akan memperkaya ide-idenya dalam berkesenian. (laz)

Jogja Raya