RADAR JOGJA – Penutupan TPST Piyungan berdampak menumpuknya sampah di lingkungan pasar. Pasar Tempel pun kini menjadi tampungan sampah dari seluruh pasar di Kabupaten Sleman.

Petugas kebersihan Sunaryo mengatakan, sejak TPST Piyungan ditutup Jumat (18/12), Pasar Tempel jadi depo pembuangan sampah. Menampung semua sampah pasar di Sleman. Total ada 43 pasar yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman.

Ini sudah menjadi kebijakan dinas agar Pasar Tempel menjadi tempat penampungan sementara hingga TPST Piyungan kembali dibuka. Disebutkan, sejak 21 Desember sudah 20 dump truck mulai pasar induk hingga pasar tradisional lain membuang sampah di Depo Sampah Pasar Tempel.

“Jumat 4 dump truck, Sabtu 9, Minggu satu dan hari ini ada 6 dump truck,” papar Sunaryo kepada Radar Jogja, Senin (21/12). Disebutkan, satu dump truck bermuatan sampah sekitar 6 sampai 7 ton. Jika di rata-rata sudah 120 ton sampah, belum termasuk volume sampah pasar itu sendiri, sekitar satu ton per hari.

Dikatakan, untuk sampah di Pasar Tempel belum dikelola dengan baik. Petugas kebersihan minim dan belum adanya mesin pencacah atau upaya pemilahan sampah. Sampah dari pedagang langsung di buang ke depo sampah. Sampah organik atau anorganik semua bercampur.

Koordinator Pasar Tempel Agus Gunawan menambahkan, sudah dua kali ini Pasar Tempel menjadi tampungan sampah sementara apabila TPST Piyungan ditutup. Sebab, depo pembuangan sampahnya dinilai cukup luas dibandingkan tampungan sampah di pasar lain.

Terkait hal itu pihaknya belum menerima komplain langsung dari masyarakat terkait keluhan tersebut. “Potensi bau ada. Tapi tidak terlalu karena jaraknya agak jauh dari lokasi berjualan,” tuturnya.

Yang dikhawatirkan jika sampah tak segera teratasi, akan mengganggu kenyamanan warga. Sebab, lokasi pasar itu juga bersinggungan langsung dengan permukiman penduduk. (mel/laz)

Jogja Raya