RADAR JOGJA- Tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari,  tidak hanya momen libur panjang  volume sampah di Kota Jogja  membludak. Namun dampak dari penutupan TPST Piyungan Bantul pun berimbas dari banyaknya tumpukan sampah bahkan hingga ke jalan. Baik di pasar maupun depo pembuangan sampah di Kota Jogja.

Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja melakukan pemantauan terkait banyaknya sampah berserakan hingga dijalan di pasar Kranggan dan selatan stasiun Kereta Api Lempuyangan Jalan Hayam Wuruk Kota Jogja, Selasa (22/12). Imbas dari pemblokadean Tempat Pengeloahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul DIJ.

Petugas DLH Kota Jogja Mayer mengatakan, hingga pukul 11.00 WIB sudah ada 5 armada pengangkut sampah guna membersihkan sampah yang berserakan hingga ke jalan,ujarnya.

Salah satu pedagang telur fajar mengaku sudah terbiasa dengan bau tak sedap dari tumpukan sampah. Apalagi dengan ditutupnya TPST Piyungan Bantul sampah pasti bertambah banyak,katanya.

Anggota Forpi Kota Jogja Baharuddin Kamba mengatakan  Forpi Kota Jogja mengusulkan kepada pemerintah kota Jogja bersama pemerintah daerah Bantul dan Sleman termasuk pemda DIJ untuk duduk bersama dalam mengatasi masalah sampah. Karena masalah sampah kerap terjadi dan tak pernah ada solusi alternatifnya.

Anggaran dana keistimewaan (Danais) dapat digunakan untuk mengatasi persoalan sampah. Anggaran danais itu besar dan seharusnya mampu untuk mengatasi persoalan sampah. Karena Pemda DIJ mampu membangun pagar di alun-alun utara  dengan nilai Rp 2,3 miliar, dan mampu membeli dua bangunan milik hotel Mutiara di kawasan Malioboro senilai Rp 170 miliar. Sungguh dana yang sangat fantastis, ujarnya. (sky)

Jogja Raya