RADAR JOGJA – Empat proyek fisik Pemkot Jogja tahun anggaran 2019 diresmikan Jumat (18/12). Total ke-4 proyek ini menelan biaya sekitar Rp 97 miliar. Jumat (18/12), salah satu proyek yang diresmikan adalah Tugu Pal Putih yang bebas kabel melintang.

Sejak kali pertama dibangun menggantikan Tugu Golong Gilig yang runtuh karena gempa bumi tahun 1867, Tugu Pal Putih Jogja memang hanya mengalami beberapa kali renovasi saja. Juga hanya mendapatkan perawatan rutin.

Baru di tahun ini Tugu yang menjadi ikon Kota Jogja direvitalisasi secara total. Terutama kabel listrik dan telekomunikasi yang sebelumnya menghalangi pandangan Tugu, kini telah dipindahkan. Sementara di sekitarnya juga dilengkapi jalur pedestrian yang nyaman.

Selain itu pola yang ada pada jalan yang melintasi Tugu, juga dibuat sama dengan pola yang ada di Titik Nol Kilometer. “Tugu sebagai bagian dari kawasan strategis guna memperkuat satuan ruang sumbu filosofis pada 2020 ditata kembali,” kata Gubernur DIJ Hamengku Buwono X saat memberi sambutan lewat video conference dari Gedhong Pracimosono Komplek Kepatihan.

Lebih lanjut HB X menjelaskan, semua revitalisasi termasuk penataan kawasan Alun-Alun Utara, Malioboro dan sub kawasan Stasiun Tugu memang dimaksudkan untuk memperkuat tatanan fisik sebagai pelaksanaan konsep sumbu filosofi di Kota Jogja. Nantinya konsep Jogja sebagai kota sumbu filosofis itu akan diajukan sebagai salah satu warisan budaya ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). “Kelanjutannya ditunjukkan memperkuat konsep usulan Jogja kota filosofi ke UNESCO,” tandas HB X.

Gubernur berharap dengan selesainya proses revitalisasi Tugu Pal Putih bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Serta bisa membawa berkah bagi semuanya.

Sementara itu Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, hasil kegiatan beberapa pembangunan fisik itu diresmikan sebagai salah satu bentuk akuntabilitas pemerintah terhadap masyarakat dan peningkatan pelayanan publik. “Empat proyek yang kami resmikan ini bersamaan yaitu revitalisasi kawasan Tugu, pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Pasar Prawirotaman, dan pedestrian Jalan KH Ahmad Dahlan tahap pertama,” katanya di Kompleks Kepatihan.

HS menjelaskan, pertama yaitu penataan simpang Tugu dengan radius 50 meter persegi dari Tugu ke empat arah simpang yaitu Jalan Diponegoro, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan AM Sangaji, dan Jalan Mangkubumi. Dalam penataan ini yang paling penting adalah seluruh kabel melintang di udara baik kabel fiber optic (FO) maupun PLN berhasil dipindahkan ke bawah tanah dengan sistem ducting sepanjang 270 meter.

“Sekarang sudah bersih di kawasan Tugu dari kabel yang semrawut di atas. Kami mendesain sudah sejak tiga tahun lalu dan ini juga bagian penataan yang tersulit di wilayah kota. Karena tidak mudah menyatukan antara kabel di atas untuk di-ducting,” ujarnya.

Dalam rangka mendukung Tugu sebagai ikon Kota Jogja juga dilakukan penataan dengan penggantian batu curbstones untuk melapisi jalan melingkar kawasan Tugu. Dan terdapat bollard pedestrian yang memutar di atas Tugu sebagai bagian untuk mengamankan ikon Tugu yang bersejarah di Kota Jogja.
“Bollard yang memutar di atas Tugu bukan tempat duduk, tapi duduk memang bisa. Tapi keliru kalau untuk berswa foto dipakai untuk tempat berdiri selfie-selfie, itu tidak boleh. Teman-teman kecamatan kelurahan akan menjaga,” jelasnya.

Penataan kawasan simpang Tugu ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 9,5 miliar dari dana keistimewaan (danais). Dengan tampilan baru, kawasan Tugu Jogja ini juga akan meningkatkan geliat pariwisata di Kota Jogja.

Selain penataan Simpang tugu, Pemkot Jogja juga melakukan penataan jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, mulai Jembatan Gondolayu hingga simpang Tugu. “Kawasan yang dikerjakan ini masuk dalam satuan ruang strategis sumbu filosofi,” sambungnya.

Berbagai fasilitas dalam penataan pedestrian sepanjang 630 meter sisi utara dan selatan tersebut juga disematkan seperti ducting untuk kabel FO, penyiraman otomatis berbasis android, taman, mursi taman, lampu budaya, dan signage penunjuk arah. Penataan pedestrian Sudirman dilaksanakan dalam waktu 100 hari dengan anggaran Rp 11.2 miliar. “Di sana kami lengkapi dengan tempat ngecas HP. Ada di depan kantor OJK,” terangnya.

ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA

Pembangunan fisik lain juga telah menyelesaikan penataan pedestrian Jalan KHA Dahlan tahap I tahun 2020. Penataan pedestrian ini adalah pada sisi selatan jalan sepanjang 700 meter dengan anggaran kurang lebih Rp 7 miliar meliputi ducting FO, pedestrian dengan material traso. “Nanti dilanjutkan tahap dua pada 2021 dengan usulan anggaran Rp 10 miliar, meliputi penyelesaian sisi selatan berupa taman, street furniture dan PJU,” tambahnya.

Di tahun 2020 ini, Pasar Prawirotaman juga tak luput menjadi sasaran revitalisasi. Pasar yang semula hanya satu lantai kini menjadi empat lantai. Biaya revitalisasi pasar oleh APBN tahun 2019 dan 2020 dengan anggaran Rp 67,7 miliar. “Lantai 1, 2, 3 dimanfaatkan untuk aktivitas jual beli pasar rakyat. Dan untuk mendukung digitalisasi 4.0 atas dukungan BPD DIY dikembangkan pasar tradisional milenial berbasis digital,” katanya.

Sementara untuk lantai 4 Pasar Prawirotaman dibangun dengan anggaran dari danais tahun 2020 sebesar Rp 2 miliar. “Pembangunan ini ditujukan untuk pengembangan ekonomi kreatif, dengan fasilitas coworking space, studio musik, studio podcast, meeting room, mini lounge, ruang laktasi, food court, dan panggung fasilitas bagi kreator musik,” paparnya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, revitalisasi dalam rangka untuk menguatkan sumbu filosofi dari Panggung Krapyak sampai Tugu. Juga bisa menjadi alternatif destinasi wisata yang berbeda-beda bagi wisatawan yang akan mengunjungi Kota Jogja. “Ke depan kita akan tetap terus melakukan pengembangan pedestrian yang ada di Kota Jogja,” katanya di Tugu Pal Putih, usai pemotongan pita.

Dikatakan, kawasan Tugu sampai Kotabaru nantinya akan dikembangkan dan dibangun menjadi satuan ruang strategis agar menjadi bagian destinasi wisata yang berbeda dari yang sudah ada. Kendalanya, kabel-kabel PLN yang masih berada di atas belum mampu dipindahkan ke bawah tanah dengan sistem ducting.

Meskipun sudah diproses sejak lama dan sudah menjadi rancangan pemkot untuk melakukan ducting se-Kota Jogja. Hanya, memang proses eksekusinya perlu dana yang besar dan harus melibatkan banyak pihak untuk bersinergi, baik perbankan maupun industri swasta. “Makanya sekarang yang kami dorong agar kawasan heritage menjadi kuat dan betul-betul nantinya menjadi premium destinasi wisata di sini,” tambahnya. (*/kur/wia/laz)

Jogja Raya