RADAR JOGJA – Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono mendukung langkah pemerintah menutup Platinum Cafe. Menurutnya pemilik dan pengelola cafe tak total dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes) Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terbukti masih adanya pelanggaran yang terus berulang.

Tak hanya Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, pihaknya juga telah melayangkan surat teguran. Bahkan DPD PHRI DIJ telah memberikan teguran hingga 4 kali. Sayangnya semua tak mendapat respon positif dari pengelola maupun pemilik cafe.

“Lha jangankan Gugus Tugas Covid-19, kami sudah menegur sampai 4 kali. Tapi tidak ada perubahan. Ya kami dukung tindakan tegas itu,” tegasnya, Jumat (18/12).

Deddy menyayangkan lemahnya penerapan prokes Covid-19. Padahal unit usaha ini telah mengantongi verifikasi dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja. Artinya saat pengajuan awal telah disertai dengan prokes.

Seiring waktu berjalan, prokes tak berjalan optimal. Para pengunjung masih tidak mengenakan masker. Bahkan setelah ditelusuri tak menjaga jarak dan tetap berkerumun. Kondisi ini tentu tak sesuai dengan komitmen awal.

“Peran kami membina, karena tidak didengarkan ya sudah peran pemerintah untuk menindak. Kami merestui apa yang dilakukan Satpol PP DIJ,” katanya.

Lemahnya penerapan prokes Covid-19 tak hanya berimbas pada kepentingan individu. Nama Jogjakarta, lanjutnya, turut menjadi taruhan. Apabila dibiarkan berlarut, maka tidak patuh prokes Covid-19 bisa melekat pada citra Jogjakarta.

“Lemahnya penerapan prokes itu imbasnya ke kita semua. Kalau ada klaster, kita semua yang rugi. PHRI sudah mengingatkan tapi ngeyel, ya sudah ditutup saja,” keluhnya.

Tak hanya Platinum Cafe, Deddy menuturkan ada 12 cafe lainnya. Seluruhnya terbukti lemah dalam menerapkan prokes Covid-19. Data ini sesuai dengan hasil monitoring oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ.

Disisi lain, Deddy meminta penegakan prokes Covid-19 tak pandang bulu. Sasarannya tak hanya unit usaha perhotelan, restoran dan cafe tapi juga warung kuliner. Dia mencontohkan kerumunan yang kerap terjadi di warung kopi utara Stasiun Tugu.

“Sekarang kami juga minta warung kecil seperti kopi yang di utara Stasiun Tugu itu juga ditindak. Ini bukan iri tapi demi Jogjakarta yang bebas dari Covid-19,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya