RADAR JOGJA – Sebagai upaya memerangi Covid-19, sebanyak 200 orang duta perubahan perilaku dikerahkan untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya protokol kesehatan (prokes) 4 M. Hasilnya, masih ada masyarAkat yang menolak untuk perubahan perilaku di tengah pandemi.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, masyarakat yang menolak relatif kecil sekitar 0,16 persen setara dengan 450 orang, baik warga Kota Jogja maupun non-Jogja. Jumlah ini dari masyarakat yang ditemui di jalan maupun titik-titik tertentu seperti Malioboro untuk ditegur.

“Iya ada yang masih menolak perubahan perilaku. Artinya menolak, mereka sudah cukup hanya pakai masker saja, dengan gitu dipercaya nggak akan kena virus,” katanya usai menerima tim monitoring internal dari Satgas Penanganan Covid-19 Pusat di Balai Kota, Kamis (17/12).

HP menjelaskan duta perubahan perilaku itu terdiri atas empat orang di setiap kecamatan ditambah 40 generasi muda dari Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR). Ini merupakan program dari pemerintah pusat untuk penguatan pelaksanaan prokes 4M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan khusus di Kota Jogja.

Agar masyarakat berkomitmen melakukan perubahan perilaku dalam menjalani aktivitas sehari-hari. “Maka kemarin meminta kami untuk menyiapkan tim untuk bergerak di masyarakat. Jadi setiap kelurahan dan beberapa titik, mereka membawa flayer dan berhenti untuk menegur atau mengingatkan langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Sosialisasi dan edukasi diberikan duta perubahan perilaku kepada 281.029 penduduk Kota Jogja maupun non-Kota Jogja selama dua pekan hingga 16 Desember. Di antara masyarakat yang sudah berkomitmen sejak awal untuk menjalankan prokes secara disiplin mencapai 45,88 persen atau 128.934 orang.

Sementara 151.645 orang atau 53,96 persen menyatakan dukungannya terhadap penanganan pandemi Covid-19. Artinya, dari jumlah itu mereka juga memakai masker tidak dengan benar. “Nah yan 53,96 persen itu menyatakan sanggup berjanji untuk selanjutnya memakai dengan benar,” jelasnya.

Dengan demikian ini menjadi perhatian bersama agar terus membuat masyarakat patuh terhadap prokes 4M. Terlebih menjelang musim liburan akhir tahun nanti. Kerja sama berbagai pihak perlu ditingkatkan, hal ini penting agar tidak terjadi penambahan kasus seperti pengalaman Agustus dan Oktober lalu.

Sementara, Deputi Bidang Rehabilitasi Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rifai mengatakan, capaian komitmen masyarakat menjalankan prokes sudah baik, khususnya Kota Jogja. Dikhawatirkan momentum libur Nataru akan menciptakan ketidakpatuhan lagi.
“Ini bahaya laten. Apalagi maklumat Kapolri yang mencabut kerumunan.

Alhamdulillah kami melihat di dua kabupaten kota, khususnya Kota Jogja luar biasa. Capaian yang spektakuler karena dengan hanya 200 orang,” tambahnya.
Dia berharap besar pada tiap pimpinan daerah kabupaten/kota agar memperkaya kebijakan perubahan perilaku. Dan kerja yang dilakukan 200 orang duta itu tidak bersifat temporer. Salah satu momentum penting yang perlu mendapat perhatian khusus adalah masa libur Nataru.

Terlebih lagi Kota Jogja merupakan kota destinasi wisata favorit. “Nah ini yang kerumunan agak repot. Libur yang bagus adalah di rumah pada situasi saat ini,” tambah Rifai. (wia/laz)

Jogja Raya