RADAR JOGJA – ISI Jogjakarta mengajak masyarakat untuk melihat kenyataan. Melalui pameran bertajuk “Seni Kenyataan”. Termasuk saat masa pandemi Covid-19 ini, dengan kewajiban pelaksanaan prokes, bisa tetap menikmati berbagai karya.

SITI FATIMAH, BANTUL, Radar Jogja

Komplek kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta kembali diramaikan dengan berbagai karya seni, Rabu (16/12). Salah satu yang menonjol, adalah patung berwarna hijau dengan pakaian pejuang kemerdekaan. Patung tersebut merupakan karya seni berjudul “Go To Hell You Covid” karya Stefan Buana
Pameran menyajikan lukisan, patung, desain interior, desain grafis, seni media, seni instalasi luar ruang, keramik, kriya logam, kriya tekstil, kriya kayu, mural, arsip seni, hingga kerja kuratorial. Kolaborasi enam negara yang diikuti oleh para dosen, alumni, dan mahasiswa. Terdapat 160 karya yang ditampilkan secara indoor dan outdoor.

Pameran bertajuk Visual Art Collaboration (VAC) ini merupakan bagian dari program Jogja International Creative Art Festival (JICAF). Konsep karya-karyanya yang disajikan terfokus pada dua subkuratorial. Pertama, karya yang mengusung tema realitas atau isu-isu kontekstual. Kedua, karya koleksi kampus ISI Jogjakarta. “Kedua subkurasi memberi keunikan tersendiri dan menyebabkan kompleks kampus menjadi lebih artistik,” papar Kurator JICAF Mikke Susanto saat menemani Radar Jogja melihat pameran Rabu (16/12).

Sementara pemilihan konsep indoor dan outdoor dalam pameran sebab pengurus menginginkan konsep pameran berupa festival dengan kegembiraan. “Bagaimana semua bisa riang, di tengah persoalan pandemi. Daripada diam, kita lakukan sesuatu namun tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Maka ruang pamer, kalau cuma satu di dalam, berbahaya. Jadi disebar ke luar. Belum ada tradisi seperti ini sebelumnya,” jelasnya.

Sejumlah seniman menampilkan karyanya dalam pameran. Di antaranya adalah Ugo Untoro, Ichwan Noor, Hedi Hariyanto, Asnar Zacky, Timbul Raharjo, Putu Sutawijaya, Stefan Buana, Purjito, Dunadi, dan Lutse Lambert. Sementara universitas yang terlibat adalah ISI Jogjakarta, Silpakorn University Thailand, University Teknologi Mara Malaysia, Tokyo University of the Arts, Japan, Melbourne University Australia, dan LaSalle College of The Art Singapore.

“Kami sudah bekerjasama selama satu dekade. Untuk pengisi pameran, kami yang minta, semua kami undang khusus. Jadi sistemnya tertutup,” sebutnya.
Salah satu seniman yang karya dipamerkan adalah Lutse Lambert. Dia menyuguhkan karya bertajuk “Red Spider”. Karya ini merupakan perlawanan Lutse pada rasa takutnya sendiri. Dia yang takut pada laba-laba justru mencari tahu lebih banyak tentang laba-laba. Sampai pada akhirnya Lutse menemukan konsep, dalam hidup butuh jaringan.

Hal itu aktual dengan sistem saat ini, di mana dunia mulai beralih pada digital yang membutuhkan jejaring. “Jaringan internet, sama seperti laba-laba membuat rumah. Jika hanya satu bentangan tidak akan mendapat mangsa atau kekuatan. Ketika ada beberapa jaringan yang menghubungkan satu titik dengan yang lain, akan lebih banyak menangkap. Material yang digunakan adalah bahan bekas yang merepresentasikan bentuk dari karya itu sendiri,” jelasnya. (pra)

Jogja Raya