RADAR JOGJA – Warga berencana menutup Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Mereka merasa tidak diperhatikan. Jalanan menuju dermaga licin dan permukaannya tertutup material semacam debu basah hingga lima centi meter. Bau lebih menyengat, lantaran material yang diangkut mayoritas sampah basah.

Dua alat berat beroperasi. Satu buldozer bekerja untuk meratakan sampah. Ada satu alat berat lagi, tapi terjerembab ke bawah. Satu ekskavator yang membantu armada tanpa pengungkit, menurunkan sampah. Namun aktivitas pembuangan sampah tidak dilakukan di dermaga, melainkan di tepi jalan.

“Keadaan seperti ini sudah satu bulan. Ini sangat mengganggu masyarakat,” ungkap juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Maryono saat ditemui wartawan Minggu  (13/12). Dikatakan, saat hari kerja, terjadi antrean panjang armada, bahkan mengular sampai 1 km.

Hal itu disebutnya mengganggu aktivitas warga sekitar TPST, seperti mengangkut pakan ternak. “Kalau ada yang antre dan satu turun ke bawah, masyarakat jadi terganggu. Dari tokoh masyarakat sangat mengeluh. Kalau tidak ada respons dari pemerintah, warga bisa menutup (TPST) ini,” ancamnya.

Maryono mengaku sudah menyampaikan keluhan kepada pengelola TPST Piyungan. Namun dia hanya diminta menunjukkan bukti. Dan belum mendapat respons. Dia juga sempat mengeluhkan matinya lampu penerangan di TPST Piyungan. Itu sudah terjadi selama lima bulan. Juga belum mendapat tanggapan. “Kalau malam gelap gulita. Warga ada yang sampai menabrak alat berat. Terlebih jalanan licin. Bahaya,” ketusnya.

Sementara sopir armada, Toyib mengaku maklum. Sebab, tiap musim penghujan alat berat pasti rusak. Seperti yang terjadi Kamis (10/12) lalu, tiga alat berat tidak ada yang bisa beroperasi. “Sampah menjadi lebih berat karena basah. Mesinnya sampai terperosok. Ini fenomena tahunan,” sebutnya.

Sedangkan Kepala Balai Pengolahan Sampah DLHK DIJ Fauzan Umar tidak mengangkat saat Radar Jogja menghubungi melalui telepon selularnya. Begitu juga karyawan di Balai Pengolahan Sampah TPST Piyungan Sumarwan, juga belum meresponsnya. (fat/laz)

Jogja Raya