RADAR JOGJA – Sembilan bulan lebih sejak pandemi Covid-19 melanda, Sugati, dalang ruwat dari Dusun Nyangkringanan Grogol, Margodadi, Sayegan, Sleman, tak melakukan pentas lagi. Hari-harinya pun ia manfaatkan untuk merawat wayang-wayang delapan turunan peninggalan leluhurnya.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Radar Jogja, Sleman

Tepatnya di Sanggar Brahmaninten, Sugati tinggal. Di rumah yang dipenuhi perangkat gamelan itu, Sugati tinggal bersama ketiga anaknya. Lama tak ada pelatihan karawitan, tari dan pentas dalang membuatnya sepi. Selama pandemi ini, alat musik karawitan di rumahnya menganggur.

“Selama pandemi ini saya memilih tak pentas. Keluarga juga melarang,” ungkap Sugati saat disambangi Radar Jogja di rumahnya yang terletak di Desa Wisata Budaya Grogol itu Minggu (13/12). Dia takut tertular Covid-19. Menginggat termasuk kelompok rentan, berusia 70 tahun.

Untuk melawan rasa sepi, sesekali dia memainkan gamelan itu. Diangkatnya kendang dan mulai menabuh. Itu bentuk kerinduannya setelah sekian lama tak pentas.

Namun ada hikmah di balik ini semua. Di waktunya yang luang ini menjadi kesempatan besar merawat warisan wayang peninggalan leluhurnya. Ada ratusan wayang.

Wayang tertua berusia 303 tahun. Konon, wayang ini peninggalan leluhurnya. Keturunan ke-9 dari dalang asal Demak, Kiai Krinan. “Yaitu dalang pertama di Jogjakarta. Namanya Kiai Kandang Wesi,” kata Sugati.

Peninggalan wayang Kiai Kandang Wesi ini sejak 1717. Berupa tokoh Janaka dan Baladewa. Lalu, peninggalan turunan ke-10, Kiai Udho Lesono berupa semar. Lanjut dia, turunan ke-11 yaitu dalang Jiwa Lesana. “Ini peninggalannya sudah tak dapat dilacak. Saat itu dibagi-bagi dan sebagian sudah dibeli orang Belanda bernama Worter,” katanya.

Nah, pada turunan ke-12, dalang Setrasana atau dalang di zaman Pangeran Diponegoro, ada sekitar 15-an wayang. Mulai Punakawan, Werkudara, Hadiroto dan lain-lain. Kalau peninggalan Kiai Cermosono, dalang turunan ke 13 ini, terdapat gunungan. Jumlahnya ada belasan.

“Turunan ke-14 Kiai Cermokarso lebih banyak lagi. Puluhan, bahkan sekotak,” sebutnya. Jumlah itu merupakan warisan yang berhasil dia selamatkan. Sebab, tak sedikit wayang yang dijual ke luar negeri pada tempo dulu.

Dalang Kiai Widhiwarsono merupakan kakek Sugati. Peninggalanannya berupa wayang tokoh Kayon, Janaka, dan Werkudara. Jumlahnya mencapai belasan tokoh. Berikutnya, ayah Sugati yaitu Kiai Cermodiatno. Peninggalannya berupa tokoh wayang berupa Kumbakarna, Werkudara, Distoroto, Anoman dan lain-lain. Jumlahnya mencapai pulahan wayang dan tergolong wayang baru.

“Saya turunan ke-18. Saya masih menyiapkan beberapa tokoh wayang untuk peninggalan,” kata dia. Dikatakan, turunan leluhurnya di atas angka sembilan, peninggalannya sudah tidak dapat dilacak lagi.

Tak sembarangan dalang, 18 keturunan ini merupakan dalang ruwat. “Ruwat anak, merti dusun dan lain-lain yang lekat dengan ritual dan berhubungan dengan tak kasat mata,” katanya.

Di usianya yang semkin senja, Sugati mempersiapkan dua kotak wayang baru untuk peninggalan. Nah jika ditotal dengan wayang kuno jumlahnya 300-an. Wayang-wayang itu dia simpan dalam boks kayu di sudut ruang tamunya.

Merawat benda kuno bukanlah hal mudah. Butuh ketelatenan dan tidak hanya merawat secara fisik, namun juga melalui ritual dan unsur spiritual. Melakukan lelaku. Seperti puasa, prihatin, dan dengan kemurnian hati. Itu tak sembarang orang bisa melakukannya.

Nah, secara fisik wayang kuno yang terbuat dari kulit kerbau dan gading kerbau itu dilap menggunakan kain dan diangin-anginkan. Agar tak berjamur.

Meski bentuk wayang kuno dan modern tidak terlampau jauh, dalam segi corak dan pewarnaannya berbeda. Wayang kuno pewarnaannya menggunakan pewarna alami tumbuh-tumbuhan. Jadi wajar saja jika warnanya sedikit redup. Dibandingkan wayang modern yang lebih cerah dan terkesan glamor dengan nuansa keemasan.

Menjadi dalang ruwat juga tidak mudah. Kata Sugati, butuh ilham dari Sang Khaliq. Bahkan menjadi dalang ruwat baru dia lakoni menginjak lansia. Berusia 60 tahun. Ya, dulu Sugati mementaskan wayang pada umumnya.

Nah, Sugati masih turunan dari pemain ketoprak kembar Gito-Gati. Konon, kakek Sugati, Widhiwarsono merupakan adik dari ayah Gito-Gati.

Sugati berupaya nguri-uri budaya dengan bermain wayang dan merawat wayang kuno leluhur. Kini, bakat Sugati menurun kepada ketiga anaknya. Dia memiliki harapan, ke depan wayang-wayang peninggalan leluhurnya dipajang di rumahnya untuk memberikan edukasi kepada generasi muda tentang wayang. “Seperti museum di rumah saya. Mudah-mudahan terlaksana,” harapnya. (laz)

Jogja Raya