RADAR JOGJA- Komisi Pemilihan Umum(KPU) DIJ telah menerbitkan angka partisipasi pilkada. Hasilnya Bantul menduduki peringkat tertinggi sebanyak 81,39 persen. Menyusul kemudian Kabupaten Gunungkidul mencapai 80,18 persen dan Kabupaten Sleman sebanyak 75,82 persen. Berdasarkan data tersebut hanya Kabupaten Sleman yang tak memenuhi target nasional.

Ketua KPU DIJ Hamdan Kurniawan mengatakan, KPU pusat menargetkan angka partisipasi pilkada dengan batas minimal 77,5 persen. “Gunungkidul dan Bantul sudah melampaui target nasional. Sleman memang 75,82 persen tapi tetap baik karena antusiasme tinggi,” ujarnya ditemui di Hotel Melia Purosani, Senin (14/12).

Hamdan menambahkan, peningkatan pemilih terjadi di 3 kabupaten. Data pembanding adalah Pilkada Serentak 2015. Detilnya Kabupaten Sleman naik 3 persen, Bantul naik 6 persen dan Gunungkidul naik 10 persen.

Hamdan menjabarkan angka partisipasi berdasarkan perekaman e-KTP.  Kabupaten Gunungkidul tercatat nol wajib rekam e-KTP. Artinya seluruhnya telah melalukan perekaman data.

Kabupaten Bantul tersisa 7 warga yang belum melakukan perekaman e-KTP. Hasil investigasi menuturkan telah berpindah domisili tinggal. Sementara kabupaten Sleman menyisakan 100 warfa yang belum melalukan perekaman e-KTP.

“Sleman ada 100 tapi sudah baik karena awalnya ada ribuan. Ini salah satu penyeimbang karena capainnya sudah hampir 100 persen,” tambahnya.

Penetapan pencapaian target berawal dari dari kondisi pandemi Covid-19. Awalnya sempat ada hipotesa jumlah partisipan pemilu turun hingga 50 persen.  Penyebabnya adalah dugaan rasa takut terpapar Covid-19. Langkah antisipasi telah dilakukan oleh KPU DIJ.

Termasuk dengan mensosialisasikan pemilu sehat. Berupa penerapan prokes Covid-19 di setiap TPS. Tak hanya bagi personel KPPS tapi juga para calon pemilih.

“Kalau kami melihat diatas 70 ini sudah bagus. Apalagi dimasa pandemi dan target dipasang sebelum mempertimbangkan pandemi. Yang pasti ada kenaikan signifikan dibanding 2015 atau Pilkada 5 tahun silam,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya