RADAR JOGJA – Guguran material vulkanik gunung Merapi mulai didominasi arah barat dan barat laut. Dikuatkan pula oleh data milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Tak hanya pekan ini tapi juga rentang waktu sebelum-sebelumnya.

Walau begitu, kondisi ini tak sepenuhnya menjadi acuan arah bahaya. Diketahui bahwa arah bukaan kawah masih menuju tenggara . Sehingga potensi arah luncuran awan panas menuju Kali Gendol tetap ada.

“Tergantung morfologi, saat ini bukaan kawah ke arah Kali Gendol atau tenggara. Memang ada potensi juga (arah) barat dan barat laut tapi demikian bukaan kawah tetap ke Kali Gendol,” jelas Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui zoom meeting, Jumat (11/12).

Berdasarkan data BPPTKG, diameter kubah Lawa 2018 berukuran 400 meter. Dengan volume mencapai 200 ribu meter kubik. Kubah lava ini memiliki arah condong ke tenggara atau Kali Gendol.

“Segala potensi masih ada, tapi setidaknya bisa terpantau dari perubahan morfologi. Ini yang masih terus kami perbarui setiap waktunya,” katanya.

Hanik meminta masyarakat khususnya warga radius bahaya dari lereng Gunung Merapi untuk bersabar. Terkait fluktuatifnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Seperti mulai menurunnya aktivitas vulkanik dalam satu pekan terakhir.

Diketahui bahwa aktivitias vulkanik Merapi saat ini cukup lambat. Penetapan status waspada telah berlangsung sejak Mei 2018. Lalu mulai meningkat jadi siaga per November 2020. Hingga akhirnya aktivitas vulkanik mulai menujukan gejala penurunan.

“Membutuhkan suatu kesabaran walau lama sekali. Ini yang harus kita lalui karena karakter Merapi antar erupsi itu berbeda. Tentunya kita semua berharap mudah-mudahan Merapi segera berakhir krisisnya,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya