RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menyebut ada penurunan aktivitas Gunung Merapi dalam sepekan terakhir. Hal itu dilihat dari data seismik dan deformasi pada gunung api ini.

Kendati demikian, kondisi ini tidak serta merta membuat status Merapi yang sejak sebulan terakhir siaga (level III) akan diturunkan. “Aktivitas Merapi secara umum masih fluktuatif di level tinggi,” ungkap Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat memberikan informasi mingguan mengenai kondisi Gunung Merapi Jumat (11/12).

Lebih lanjut Hanik membeberkan morfologi pengamatan yang dilakukan BPPTKG. Dalam pengamatan tersebut, sampai saat ini tidak ditemukan pembentukan kawah baru. Teramati juga adanya perubahan morfologi dinding kawah, terutama kawah lava 1948 dan lava 1888 yang disebabkan adanya runtuhan.

Kemudian terjadi peningkatan aktivitas di permukaan kawah. Rekahan yang ada di tebing kawah juga makin memanjang dan melebar. Sementara itu, guguran lava masih dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol, dengan jarak maksimal 3 kilometer.

Dalam kesempatan ini Hanik juga menjelaskan beberapa pertanyaan yang sering datang dari warganet. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai apakah musim penghujan bisa mempengaruhi proses erupsi Merapi.

Menjawab hal itu, Hanik menjelaskan bahwa gunung api yang akan erupsi, aktivitasnya berasal dari dalam gunung itu sendiri. Jadi adanya musim penghujan sebenarnya tidak mempengaruhi proses erupsi. “Kalaupun berpengaruh, itu biasanya selepas erupsi dan kemungkinannya sedikit,” tandas Hanik. (kur/laz)

Jogja Raya