RADAR JOGJA – Aksi demonstrasi mahasiswa memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Kamis (10/12) dihadang petugas kepolisian dan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro. Massa aksi yang berencana long march dari Tempat Khusus Parkir Abu Bakar Ali (TKP ABA) ke Titik Nol Km, harus berubah.

Sebelum terjadi pengumpulan massa, petugas kepolisian telah menyiagakan puluhan personel di sekitar simpang Teteg Malioboro. Polisi pun memasang kawat berduri di kawasan itu, sehingga akses ke Jalan Malioboro ditutup. Selain aparat kepolisian, puluhan PKL juga ikut berjaga di belakang kawat berduri.
Massa aksi pun tertahan di TKP ABA. Namun, aksi tetap berjalan. Satu persatu dari mereka menyampaikan orasi dan tuntutannya. Sekitar pukul 16.00 massa telah membubarkan diri.

Ketua Komunitas Malioboro Slamet Santoso menjelaskan, pihaknya melarang aksi demonstrasi di kawasan Malioboro. “Ini kan mau menyambut long weekend juga. Jadi PKL sudah bersiap, kalau ada aksi demo dan berakhir ricuh siapa yang mau tanggung jawab, kan pedagang juga yang kena imbasnya,” jelasnya.

Slamet melanjutkan, pandemi Covid-19 membuat omzet PKL menurun drastis. Kemudian kejadian rusuh 8 Oktober lalu juga membuat PKL trauma. Hal itu juga berpengaruh kepada wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk datang karena takut. Slamet tak ingin kejadian serupa terulang.

“Jadi mari sama-sama kita jaga agar Malioboro sebagai ikon pariwisata bisa ramai dikunjungi dan tidak rusak akibat tindakan-tindakan rusuh,” ungkapnya.
Narahubung Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) Fikram mengatakan, aksi digelar untuk memperingati Hari HAM yang diperingati tiap 10 Desember. ARB juga menyatakan mosi tidak percaya yang mengandung maksud ketidakpercayaan pada seluruh tatanan yang menindas saat ini. (tor/laz)

Jogja Raya