RADAR JOGJA – Gagal total dalam Pilkada di Sleman, Bantul dan Gunungkidul 2015 lalu, PDIP berhasil comeback di pilkada kali ini. Hasil hitung cepat yang dilakukan, paslon yang diusung PDIP unggul di Sleman dan Bantul. Hanya di Gunungkidul, paslon yang diusung Partai Golkar dan PKB yang unggul.

Ketika dikonfirmasi Sekretaris DPD PDIP DIJ Toto Hedi Santosa menyebut dari hasil hitung cepat yang dilakukan, paslon yang diusung di Sleman Kustini Sri Purmomo-Danang Maharsa serta Abdul Halim Muslih dan Joko Pramono di Bantul yang unggul. “Ya ini kemenangan rakyat Sleman dan Bantul, karena selama ini kami mengandalkan visi misi program, tidak ada money politic,” katanya tadi malam (9/12).

Bagaimana dengan Pilkada Gunungkidul? Toto mengatakan, berbeda dengan Sleman dan Bantul yang sejak pukul 16.00 sudah 100 persen data TPS yang masuk, keterbatasan akses internet membuat pihaknya belum bisa merekap seluruh data dari TPS. “Gunungkidul belum masuk semua karena internet, ya kami menunggu saja,” tuturnya.

Toto yang juga Ketua Tim Pemenangan Kustini Sri Purmomo-Danang Maharsa ini mengklaim kemenangan pada hitung cepat suara Pilkada Sleman 2020. Dengan presentase angka yakni 38,7 persen atau memperoleh 213.126 suara warga Sleman. Disusul peringkat kedua adalah paslon Sri Muslimatun-Amin Purnama dengan total pemilih 171.306. Jika dipresentasikan, yakni berjumlah 31,1 persen. Urutan terakhir adalah Danang Wicaksana Sulistya-Agus Choliq sebesar 30,2 persen dengan jumlah pemilih 166.394.

Menurut Toto, angka tersebut bukan hanya sekadar klaim. Melainkan hasil presisi yang telah dihitung melalui sistem yang dimiliki oleh partai koalisi. Sistem hitung tersebut, sudah ada sebelum pihaknya mencalonkan paslon sebagai Bupati dan Wakil Bupati. “Angka ini valid,” tegasnya.

Toto mengaku, jika angka tersebut jauh dari yang diprediksikan semula. Mengingat saat ini masyarakat yang tidak peduli dengan pilkada. Ditambah dengan situasi pandemi Covid-19, diakuinya hasil yang didapatkan tidak sesuai target. Meskipun demikian, mantan anggota DPRD DIJ itu tetap senang karena hasil yang didapatkan bisa mengungguli dua paslon lainnya. Hal tersebut, bukan hanya kemenangan bagi partai politik. Namun sebagai kemenangan rakyat Sleman. “Karena rakyat jauh lebih mengapresiasi apa yang disebut visi, misi dan program dari paslon,” lanjutnya.

Sementara itu, Kustini Sri Purnomo menilai jika kemenangan yang diraihnya adalah kerjasama dari partai pengusung, semua relawan dan kader yang ada di wilayah Sleman. “Kemenangan ini adalah kemenangan warga Sleman,” tutur istri Bupati Sleman saat ini Sri Purnomo itu.

Terpisah, Kepala Sekber Pemenangan Danang Wicaksana Sulistya-Agus Choliq, Sarjito mengaku jika data yang masuk perhitungan cepat baru mencapai 95 persen hingga pukul 18.00. Tidak menyebutkan persentase yang didapatkan oleh paslon yang diusungnya, Sarjito mengaku angka yang didapatkan masih kalah dengan paslon lainnya. “Nomornya (urutan ke berapa) tidak usah disebutkan,” kata Sarjito.

Mengenai hasil penghitungan sementara, Agus mengaku siap menang dan kalah. Namun pihaknya tetap akan melihat perkembangan Pilkada, jika nantinya ada kecurangan yang masif. Pihaknya siap membawa masalah tersebut ke ranah hukum. “Kalau ada (red, kecurangan) yang masif akan kami bawa ke ranah hukum. Tapi kalau itu sudah sesuai prosedur dan kehendak rakyat, perlu kita hargai,” kata Agus.

Di Bantul, Ketua Tim Pemenangan paslon Abdul Halim Muslih-Joko Budi Purnomo (Halim-Joko) Subhan Nawawi mengucap syukur atas keunggulan timnya dalam Pilkada Bantul 2020. Meski masih hasil dari quick count. “Hampir 58 persen perolehannya,” sebut Subhan usai pidato kemenangan paslon nomor urut satu tadi malam (9/12). Artinya ada sekitar 306 ribu surat suara yang mendukung Halim-Joko.

Dalam kesempatan yang sama, Halim mengajak masyarakat Bantul bersatu. Membangun Bantul yang lebih baik dengan mengakhiri dikotomi perbedaan. “Mulai malam ini tidak ada lagi 1 dan 2, batik dan putik. Kami harus bersama membangun Bantul,” ucap Wakil Bupati Bantul itu.

BIAR AMAN: Petugas KPPS dengan mengenakan alat pelindung diri melayani pasien Covid-19 yang menggunakan hak pilihnya di Pilkada Sleman, di Faskes Darurat Covid-19 di Asrama Haji, Jogjakarta, (9/12).(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Sementara Ketua Tim Pemenangan paslon Suharsono- Totok Sudarto, Arif Iskandar mengakui kekalahan sejak sore. Kendati quick count belum mencapai 100 persen. “Berdasar hasil quick count aplikasi sistem informasi, rekap penghitungan suara teman-teman KPPS yang masuk ke KPU, saya menerima data sudah 93 persen yang masuk. Kami mengalami ketertinggalan,” ujarnya.

Selisih teretinggalan dinilai Arif cukup banyak, yaitu 100 ribu suara. “Maka kami pastikan, berdasar rekap tersebut, kami sudah mengalami kekalahan suara. Karena kami 42,5 persen, lawan 57,5 persen dari Si Rekap KPU,” ucapnya. Meski demikian, Arif sudah siap. Sebab tim sudah berusaha maksimal. “Berdasar penghitungan suara. Kami mau tidak mau mengakui kekalahan dan keunggulan pihak paslon nomor satu,” imbuhnya.

Kekalahan Suharsono pun terlihat di TPS tempatnya mencoblos. Di TPS 55, Demangan, Bangunharjo, Sewon. Dia hanya mampu meraih 70 suara. Sementara pesaingnya, Halim-Joko meraih 173 suara. Dari total surat suara 256, dengan 13 surat suara yang dinyatakan tidak sah.

Sedang di Gunungkidul, paslon Sunaryanta- Heri Susanto menemui pendukungnya di Kwarasan, Nglipar atau kediaman Sunaryanta tadi malam (9/12). Di hadapan para pendukung di depan rumah, pengusung jargon ‘Gunungkidul Membangun’ itu nampak sumringah. Mengenakan kaos corak merah, putih dan hitam bergaris, Sunaryanta mencoba menenangkan luapan kegembiraan simpatisan melalui pengeras suara. Dia meminta agar semua pihak menunggu data riil terkait dengan informasi hasil Pilkada 2020.“Agar kita tidak meraba-raba tentang kemenangan dan lain sebagainya. Kepada para pendukung mudah-mudahan ke depan bisa bersama-sama dengan semua warga Gunungkidul,” kata Sunaryanta.

Sementara itu, calon bupati nomor utur 1 Sutrisna Wibawa ketika dikonformasi mengenai hasil perolehan suara memilih irit bicara. Dia mengaku belum bisa berbicara banyak karena harus menunggu rekap tim. “Belum mas,” kata Sutrisna ketika ditanya hitung cepat internal.

Sedang calon bupati nomor urut 2 Immawan Wahyudi belum dapat dihubungi. Namun usai memberikan hak suara di TPS Purbosari, Wonosari dia sempat berkomentar mengenai hasil Pilkada Gunungkidul.“Setiap kandidat itu tentu punya harapan menang, itu wajar. Hanya bagaimana caranya menang itu melalui jalan yang benar dan baik sehingga maslahat,” kata Immawan Wahyudi.

Terpisah, calon bupati nomor urut 3 Bambang Wisnu Handoyo ketika dihubungi juga hanya memberikan stetmen pendek. Cabup yang diusung PDIP itu justru bertanya balik mengenai munculnya hasil rekap pemungutan suara.“Ya, ya darimana (hasil hitung cepat itu muncul),” kata Bambang kemudian menutup sambungan telepon seluler pribadinya.(eno/fat/gun/pra)

Jogja Raya