RADAR JOGJA – Tim dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIJ menemukan pelanggaran selama pemungutan suara Pilkada Serentak 2020.

Pelanggaran alat peraga kampanye (APK) masih ditemukan saat hari H pemungutan suara. Mayoritas adalah temuan APK yang memuat foto dan nama para pasangan calon. Beberapa bahkan adalah APK yang baru terpasang.

Upaya pembersihan sejatinya telah dilakukan selama masa tenang. Termasuk penurunan paksa oleh Panwascam, Bawaslu Kabupaten Kota maupun Bawaslu DIJ. Sayangnya selang waktu, APK kembali terpasang.

“Temuan kami ada di sekitar jalan Gejayan (Affandi) dan Sariharjo Ngaglik sekitar Hotel Hyatt. Tadi pagi juga masih ada bentuknya rontek dari Paslon nomor 3,” jelas Ketua Bawaslu DIJ Bagus Sarwono, Rabu (9/12).

Walau begitu pihaknya belum mengetahui secara pasti pihak pemasang. Hanya saja Bagus memastikan APK tersebut masih baru. Bahkan adapula temuan APK di beberapa lokasi yang berdekatan dengan TPS.

“Sudah bersih, diduga semalam ada yang menempelkan lagi. Prinsip kami gerak cepat dan panwas desa sudah menggulung 18 apk,” tegasnya.

Anggota Bawaslu Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu DIJ Sri Rahayu Werdiningsih menuturkan sempat ada ketimpangan tugas. Satpol PP Sleman sebagai penegak peraturan justru tak bertindak. Alasannya adalah bertepatan dengan libur nasional.

Alhasil jajarannya menugaskan Satpam Kantor Bawaslu DIJ untuk menurunkan sejumlah APK. Termasuk baliho besar yang menampilkan foto salah satu Paslon. Tindakan tegas ini dilakukan bersama panwascam dan Bawaslu Sleman.

“Sudah koordinasi dengan Satpol PP tapi tidak mau melaksanakan karena bertepatan hari libur. Akhirnya Bawaslu Sleman memerintahkan satpamnya untuk menurunkan baliho besar itu. Sebenarnya ini sudah masuk pelanggaran administrasi,” ujarnya.

Beberapa temuan juga ada di kawasan Maguwoharjo Sleman. Hanya saja kali ini terkait mobil dengan tempelan APK. Kendaraan ini sempat terparkir di TPS 17 Maguwoharjo. Adapula satgas beratribut partai yang mendatangi TPS 26 Maguwoharjo.

“Mobil branding dan satgas langsung diminta meninggalkan lokasi oleh masing-masing pengawas TPS,” katanya.

Pemindahan lokasi TPS juga sempat terjadi di Gedangsari dan Ngawen Gunungkidul. Hanya saja kali ini penyebabnya bukan Covid-19. Salah satu tim sukses menolak karena lokasi TPS adalah tempat berkumpul Paslon lawan politik.

“Terpaksa ada pemindahan TPS karena sempat diprotes  simpatisan Paslon nomor 4. Yang mendirikan dan lokasinya dianggap sebagai simpatisan Paslon nomor 3,” ujarnya.

Pihaknya juga masih mendalami adanya dugaan surat suara tercoblos di salah satu TPS di Wedomartani Ngemplak. Hasil temuan sementara, kertas surat suara terlipat dobel. Sayangnya kertas surat suara tetap diberikan kepada salah seorang DPT.

Berdasarkan fakta ini ada tiga hipotesa yang muncul. Pertama pemilih sempat mencoblos lalu mengembalikan ke petugas KPPS. Selanjutnya memang telah rusak sejak awal pelipatan kertas surat suara.

“Atau memang telah dicoblos oleh KPPS. Ini butuh penulusuran, belum tahu apakah pelanggaran tetapi memang benar ada 2 surat suara terlipat bersamaan,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya