RADAR JOGJA – Gubernur DIJ  Sultan Hamengku Buwono  (HB) X mewanti-wanti masyarakat terkait kasus penularan Covid-19 yang kian tinggi angkanya beberapa hari terakhir di  Jogja.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan adanya pergeseran tren penularan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tak lagi menjadi klaster besar namun semakin merata. Ini karena sebaran penularan Covid-19 lebih cenderung ke keluarga dan tetangga.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menilai penularan semakin dekat. Terlebih kontak antara keluarga dan tetangga lebih intens. Tak jarang pula penerapan protokol kesehatan (prokes) tidak optimal.

“Karena sekarang itu penularan (sudah) antar tetangga, jadi mas mbak hati-hati karena saya lihat dalam report setiap hari ini tertular karena (kasus) nomor sekian. Nomor sekian nulari nomor sekian, saat dirunut ternyata kecenderungan itu tetangga sudah bisa kena,” ujarnya ditemui di Kantor Kepatihan, Kamis (10/12).

HB X meminta masyarakat berperan aktif. Baginya masyarakat juga menjadi bagian dalam meminimalisir sebaran kasus. Tak sekadar menunggu ketegasan dari gugus tugas penanganan Covid-19.

Walau begitu, pihaknya bertindak tegas. HB X mencontohkan pembubaran acara Festival Vespa beberapa waktu lalu. Bertempat di sebuah mall di Kota Jogja, acara ini justru menimbulkan kerumunan.

“Sekarang ini kan vaksin belum dibagikan, obatnya juga belum ada. Jadi ya kuncinya itu, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker dan tidak berkerumun. Kalau ada kerumunan kayak acara vespa kemarin, ya saya suruh bubarkan,” katanya.

Sebaran kasus dalam lingkungan keluarga bukanlah isapan jempol. Kajian kecil sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Sleman. Berupa perunutan detil kasus. Termasuk didalamnya penularan kontak erat setiap pasien.

Penerapan isolasi mandiri turut berkorelasi. Lemahnya tindakan dan pengawasan medis membuat tindakan isolasi mandiri menjadi tak optimal. Bukannya surut, pasien justru berpotensi menularkan Covid-19 ke kontak interaksinya.

“Tren kasus sekarang sebagian besar dari tracing kontak erat. Tidak ada klaster besar tapi sudah cenderung ke keluarga dan tetangga. Ada beberapa isolasi mandiri yang tidak optimal, terutama pengawasannya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo.

Lonjakan sebaran kasus lingkup keluarga dan tetangga mulai terdeteksi sejak awal Desember. Kondisi ini cukup mendominasi sebaran kasus Covid-19 di Kabupaten Sleman. Itulah mengapa pihaknya tetap mewajibkan pengawasan oleh Puskesmas kepada pasien isolasi mandiri.

Joko turut menjabarkan angka kasus Covid-19 aktif. Tercatat setidaknya saat ini ada 955 kasus aktif di Kabupaten Sleman. Dari total data tersebut, sebanyak 680 kasus melakukan isolasi mandiri. Tak hanya di rumah adapula di fasilitas pendidikan maupun komunal.

“Jadi isolasi mandiri tidak sepenuhnya di rumah, ada yang seperti di ponpes itu komunal. Mereka ini adalah pasien tanpa gejala, tapi bukan berarti isolasinya bisa longgar,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya