RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X meminta masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya saat pencoblosan pilkada di tengah pandemi Covid-19 hari ini (9/12). HB X berharap proses pemilihan dapat berjalan tertib. Masyarakat dan panitia diimbau mematuhi prosedur dan protokol kesehatan (prokes) yang ditetapkan.

“Saya mohon kan sudah dibagi waktu, itu ditepati sehingga tidak ada penumpukan di TPS. Baik waktu pencoblosan maupun penghitungan suara. Yang penting protokol jaga jarak harus tetap diterapkan,” jelas gubernur di Kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (8/12).

Kepada calon kepala daerah, HB X meminta agar mereka bisa menghargai hasil penghitungan suara. Serta berlaku jujur dan sportif dalam menyikapi segala kemungkinan. “Sing menang ya jangan sombong, sing kalah jangan iri. Ini proses demokrasi, menghargai pilihan masyarakat. Jadi gitu saja,” tuturnya.

Untuk memastikan penegakan protokol kesehatan di tempat pemilihan suara (TPS), Satpol PP DIJ menerjunkan 17.568 anggota Linmas ke tiap TPS. “Per TPS ada dua orang. Kemudian di PPS (Panitia Pemungutan Suara) masing-masing 10 orang, dan di PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) 31 orang,” jelas Kepala Satpol PP DIJ Noviar Rahmad.

Pihaknya juga mengirimkan 200 anggota Satpol PP DIJ yang akan diterjunkan ke tiga kabupaten/kota penyelenggara pilkada: Sleman, Bantul dan Gunungkidul. Yang menjadi perhatian utama adalah saat pencoblosan, penghitungan suara, dan selebrasi kemenangan.

“Di samping itu juga dari TNI, Polri akam kirimkan personel. 665 anggota TNI nanti akan diturunkan untuk memperkuat dari unsur polisian yang ditugaskan di masing-masing kabupaten. Semuanya fokus kepada penegakan prokes,” jelasnya.

Menurutnya, ada 15 hal peraturan baru dalam pelaksanaan pilkada kali ini. Semunya terkait dengan protokol kesehatan (prokes). “Yang memastikan penegakn protokol kesehatan adalah linmas yang kami tugaskan,” urainya.

Noviar mencontohkan, peserta yang masuk ke TPS harus memakai sarung tangan yang sudah disiapkan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Lalu peserta yang masuk TPS diwajibkan mengenakan masker dan melakukan pengecekan suhu tubuh. Peserta juga tidak boleh bersentuhan atau salaman. “Juga disarankan memakai alat tulis sendiri, tidak pakai alat dari KPPS tapi membawa dari rumah,” ungkapnya.

TPS juga menyediakan ruang isolasi bagi pencoblos dengan suhu di atas 37,3 derajat. Termasuk APD hazmat disiapkan KPPS saat melayani peserta pasien positif. “Terus nanti juga terkait tinta tidak dicelup, tapi ditetes,” tutur Noviar.

Angka Golput Diprediksi Tinggi

Pilkada kali ini memiliki tantangan yang tidak mudah. Salah satunya adalah angka golongan putih alias golput yang diprediksi akan sangat tinggi.
Data dari KPU Sleman misalnya, tingkat golput Pemilu 2010 di Kabupaten Sleman saat itu mencapai 35-40 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 759.062. Untuk tahun ini banyak yang memprediksi angkanya bisa mencapai lebih dari 50 persen.

Penyebabnya ada beberapa hal. Salah satunya tentu pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Selain itu beberapa kali juga sudah ada rekomendasi untuk penundaan pilkada dari beberapa ormas Islam besar di tanah air.

Banyak dari pemilik hak suara juga bingung akan memilih siapa nantinya. Selama ini mereka tidak bisa mengenal para calon yang terlibat dalam kontestasi pemimpin daerah, lantaran kampanye terbuka juga tidak bisa dilakukan. “Saya sampai sekarang masih bingung, mungkin pilkada tahun ini akan golput,” kata Alvi Kurnia, pemilik hak suara untuk Pilkada Sleman tahun ini.

Melihat kondisi itu, pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Purwo Santoso punya pandangan tersendiri. Menurutnya, golput memang diperbolehkan dalam sistem demokrasi. Pasalnya, golput merupakan hak dari rakyat. “Demokrasi itu kedaulatan ada di tangan rakyat. Kalau rakyatnya tidak peduli, kita mau apa,” katanya (7/12).

Lebih lanjut Purwo juga berharap dengan potensi golput yang tinggi ini bisa jadi pembelajaran bagi siapa saja yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Juga bagi partai pengusung para calon itu. “Kalau rakyat tidak pernah mengenal mereka, dan rakyat tidak peduli, kan salah mereka tidak merakyat,” tandas Purwo. (tor/kur/laz)

Jogja Raya